Daftar isi
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Di tengah begitu banyak tuntutan, penerimaan diri dapat menjadi tempat berlindung secara emosional, tempat kamu diizinkan untuk menjadi dirimu sendiri. Kamu tidak perlu membuktikan apa pun, menyembunyikan sisi-sisimu yang rentan, atau mencapai versi dirimu yang sempurna untuk merasa layak mendapatkan cinta dan rasa hormat.
Namun, jalan untuk menerima siapa dirimu sama uniknya dengan bintang-bintang di langit. Apa yang membantu seseorang belum tentu bekerja dengan cara yang sama bagi orang lain.
Melalui perjalanan pribadi dan profesional saya, mendampingi orang-orang dalam proses emosional dan spiritual mereka, saya menemukan titik awal yang sederhana namun transformatif: memberikan lebih banyak perhatian pada hal-hal yang benar-benar kamu cintai dari dirimu dan hidupmu.
Cara memulai proses penerimaan diri
Apa sebenarnya arti menerima dirimu? Sederhananya, ini berarti mengakui siapa dirimu saat ini, tanpa memperlakukan dirimu seolah-olah kamu adalah proyek rusak yang membutuhkan perbaikan tanpa henti.
Sekilas, hal itu tampak mudah. Namun, selama suatu waktu saya merasa bahwa kata penerimaan diri muncul di mana-mana. Saya menemukannya dalam percakapan, majalah, bahkan dalam pesan dari kue keberuntungan. Pengulangan itu membangkitkan rasa ingin tahu saya.
Jadi, saya melakukan sesuatu yang sangat manusiawi: menuangkan segelas Chardonnay dan mulai mencari tahu.
Saya menemukan satu gagasan yang berulang kali muncul: penerimaan diri adalah mencintai dan menerima diri sendiri tanpa syarat. Definisi itu benar, tetapi saya menyadari bahwa banyak tulisan hampir secara eksklusif berfokus pada belajar hidup berdampingan dengan kekurangan.
Menerima aspek-aspek yang membuatmu tidak nyaman memang penting. Namun, penerimaan diri juga mencakup pengakuan atas kelebihan, kemampuan, dan kualitas batinmu. Jika kamu hanya melihat hal-hal yang ingin kamu perbaiki, pandanganmu terhadap dirimu sendiri akan tetap tidak utuh.
Penerimaan diri bukan berarti pasrah pada kekuranganmu
Menerima diri tidak berarti menyangkal kesalahanmu atau berhenti bertumbuh. Ini juga bukan berarti membenarkan perilaku yang menyakiti dirimu atau orang lain. Ini berarti berhenti merendahkan diri sendiri saat kamu sedang belajar.
Kamu dapat mengakui bahwa reaksimu kurang tepat dan, pada saat yang sama, mengingat bahwa kamu mampu memperbaiki kerusakan yang terjadi. Kamu dapat mengakui bahwa kamu takut tanpa mendefinisikan dirimu sebagai orang yang lemah. Kamu juga dapat menerima sebuah ketidaksempurnaan tanpa menjadikannya pusat identitasmu.
Jika kamu sedang mengolah bagian dari kisah hidupmu ini, mungkin akan membantu untuk membaca tentang cara mencintai ketidaksempurnaanmu dan melangkah menuju penerimaan diri.
Mengapa sulit mengenali kelebihan diri sendiri
Kita cenderung meremehkan pengaruh kualitas positif kita terhadap citra yang kita bangun tentang diri sendiri. Kita begitu terobsesi pada kesalahan sehingga jarang berhenti untuk merayakan hal-hal yang membuat kita istimewa dan berharga.
Kita juga dapat mengecilkan bakat kita karena takut akan penilaian orang lain. Mungkin kamu belajar bahwa berbicara baik tentang diri sendiri adalah tindakan egois, sombong, atau penuh kesia-siaan. Karena itu, ketika seseorang memujimu, kamu menjawabnya dengan lelucon, mengganti topik, atau langsung menunjukkan salah satu kekuranganmu.
Namun, mengakui sebuah kekuatan tidak berarti percaya bahwa kamu lebih unggul daripada orang lain. Kamu dapat menghargai hal baik dalam dirimu tanpa bersaing dengan siapa pun. Penerimaan diri adalah proses yang intim. Ia tidak membutuhkan persetujuan dari orang-orang di sekitarmu.
Bagi saya, merangkul diri sendiri berarti mengakui kekuatan saya dan membiarkannya terwujud. Itu berarti memandang keunikan saya dengan kasih sayang dan merayakan bahwa tidak ada orang lain yang benar-benar sama persis seperti saya.
Latihan praktis untuk mengenali hal yang kamu cintai dari dirimu
Carilah waktu yang tenang, lalu tuliskan, tanpa mengoreksi diri, lima hal yang kamu hargai dari dirimu. Hal-hal itu tidak harus luar biasa. Kamu dapat menulis selera humormu, caramu mendengarkan, ketekunanmu dalam menyelesaikan masalah, atau kelembutan yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang kamu cintai.
Setelah itu, tambahkan tiga kegiatan yang membuatmu merasa terhubung dengan dirimu sendiri. Mungkin kamu menikmati memasak, membaca, merawat tanaman, menari, mempelajari sesuatu yang baru, atau berjalan dalam keheningan. Minatmu juga mengungkapkan bagian-bagian penting dari identitasmu.
Jika kamu merasa buntu, ingatlah situasi sulit yang pernah kamu lewati dan tanyakan pada diri sendiri: kualitas apa yang membantu saya untuk terus melangkah? Mungkin akan muncul kata-kata seperti kesabaran, keberanian, kreativitas, atau ketangguhan.
Jangan mengabaikan suatu kelebihan hanya karena menurutmu itu kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, mampu meminta maaf, menepati janji, atau menemani seseorang juga menunjukkan nilai yang sangat besar. Untuk mendalami proses ini, kamu dapat mengeksplorasi cara membangun cinta diri tanpa rasa bersalah maupun malu.
Berfokus pada hal yang kamu cintai mengubah pandangan batinmu
Saat kamu mengarahkan perhatian pada kemampuan, minat, dan gairahmu yang membangun, kamu tidak sedang mengabaikan kesulitanmu. Kamu sedang menyeimbangkan gambaran yang kamu miliki tentang dirimu sendiri.
Menerima siapa diri saya berarti melihat diri saya sebagai seseorang yang tangguh, dengan senyum yang memikat dan hati yang murah hati, yang mampu bergerak maju menuju tujuan-tujuannya. Pandangan itu tidak menghapus hari-hari ketika saya merasa tidak yakin, tetapi mencegah satu pengalaman buruk mendefinisikan seluruh diri saya.
Saya telah belajar untuk melepaskan sebagian kekhawatiran tentang hal-hal yang tidak dapat saya kendalikan atau ubah. Sebagai gantinya, saya berusaha menumbuhkan sifat-sifat cerah yang sudah ada dalam diri saya. Kamu juga dapat melakukannya, selangkah demi selangkah.
Mulailah dengan berbicara kepada dirimu sendiri sebagaimana kamu akan berbicara kepada seseorang yang kamu cintai. Akui hal-hal yang perlu kamu perbaiki, tetapi jangan lupa melihat kemajuanmu. Nilaimu tidak dimulai ketika ketidaksempurnaanmu menghilang. Nilai itu sudah hadir dalam kepekaanmu, pembelajaranmu, keputusanmu, dan caramu yang tak tergantikan dalam hadir di dunia ini. 🌿