Daftar isi
- Cara bereaksi menghadapi krisis tanpa membiarkan diri dikuasai rasa takut
- Contoh sejarah tentang kreativitas dan ketangguhan di masa sulit
- Apa yang bisa kamu kendalikan ketika semuanya tampak tidak pasti
- Menggunakan krisis untuk meninjau hidupmu, hubunganmu, dan prioritasmu
- Pelajaran emosional yang ditinggalkan oleh krisis yang mendalam
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Di awal tahun 2020, banyak orang menatap kalender dengan penuh harapan. Ada rencana, target, perjalanan impian, proyek pekerjaan, dan janji-janji pribadi. Mungkin kamu juga punya daftar tujuan yang ingin dicapai. Namun, tak seorang pun membayangkan bahwa sebuah pandemi yang disebabkan oleh coronavirus baru, COVID-19, akan menghentikan seluruh dunia dengan cara yang begitu mendalam.
Wabah itu bermula di Tiongkok, tetapi tak lama kemudian virus menyebar ke berbagai negara. Dalam waktu singkat, sesuatu yang terasa jauh masuk ke rumah kita, percakapan kita, dan rutinitas kita.
Pada saat itu, hampir semua dari kita mengalami rasa takut, kekhawatiran, kecemasan, dan ketidakstabilan.
Setiap hari muncul angka-angka baru. Lebih banyak penularan. Lebih banyak orang dirawat di rumah sakit. Lebih banyak keluarga menghadapi kehilangan. Jalan-jalan, yang sebelumnya penuh aktivitas, tampak kosong. Beberapa kota terasa seperti terhenti dalam waktu.
Kita, manusia yang terbiasa merencanakan dan mengendalikan, tiba-tiba berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri kita. Kepanikan muncul. Begitu juga ketidakpastian ekonomi, kesepian, isolasi, dan kelelahan emosional.
Beberapa orang bereaksi karena takut dan membeli barang dalam jumlah besar. Yang lain tidak tahu apakah mereka akan menerima gaji berikutnya, apakah mereka bisa membayar tagihan, atau apakah mereka akan memiliki cukup makanan untuk keluarga mereka. Dalam krisis, ketimpangan menjadi semakin tampak, dan hati kita terasa sedikit lebih sesak.
Aku telah menyaksikan banyak situasi sulit, tetapi untuk pertama kalinya dalam fase kedewasaanku aku merasakan ketakutan yang nyata akan masa depan. Itu bukan ketakutan kecil. Itu adalah perasaan menatap ke depan dan tidak melihat jalan dengan jelas.
Tidak ada yang siap menghadapi krisis seperti ini. Ia datang tanpa meminta izin, tanpa peringatan, dan dengan intensitas yang menimbulkan kebingungan, duka, dan kekacauan.
Tetapi bahkan dalam masa penuh ketakutan dan ketidakpastian, ada satu keputusan penting yang tetap bisa kita ambil: bagaimana kita akan bereaksi terhadap kesulitan.
Sebuah krisis bisa mengeluarkan yang terbaik dan yang terburuk dari sifat manusia. Ia bisa membangkitkan egoisme, iritabilitas, dan keputusasaan. Namun ia juga bisa membangkitkan solidaritas, kreativitas, rasa syukur, dan kekuatan batin yang tak kita sadari kita miliki.
Pertanyaannya sangat dalam: apakah kamu akan membiarkan diri dikalahkan oleh rasa takut, atau mencoba menemukan sebuah kemungkinan di dalam situasi ini?
Bukan berarti menolak rasa sakit. Juga bukan berpura-pura optimis saat kamu sudah kelelahan. Ini tentang mengakui apa yang terjadi dan, meski begitu, bertanya pada diri sendiri: bagian mana dari responsku yang masih bergantung padaku? 🌿
Jika kamu sedang merasakan kecemasan atau gelisah, kamu juga bisa membaca cara mengatasi kecemasan dengan tips praktis. Bukan sebagai resep ajaib, melainkan sebagai titik tumpu untuk kembali bernapas lebih baik.
Cara bereaksi menghadapi krisis tanpa membiarkan diri dikuasai rasa takut
Sangat sulit mempertahankan sikap positif ketika tampaknya dunia sedang menuju bencana. Karena itu aku tidak akan meminta kamu untuk bahagia di tengah penderitaan. Itu tidak adil dan tidak manusiawi.
Yang bisa kamu lakukan adalah melihat gambaran besarnya. Bertanya pada diri sendiri pelajaran apa yang bisa ditinggalkan oleh fase ini. Hubungan apa yang perlu kamu jaga. Kebiasaan apa yang tidak ingin lagi kamu pertahankan. Bagian hidup mana yang selama ini berjalan dalam mode otomatis.
Terkadang, krisis menghentikan segala hal di luar diri agar memaksa kita melihat ke dalam. Dan itu terasa tidak nyaman. Karena ketika kebisingan di luar mereda, muncul pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya kita hindari.
Kamu bisa melakukan sesuatu yang berharga selama krisis, meski kecil.
Mungkin kamu tidak akan menulis karya besar atau mengubah seluruh dunia. Tetapi kamu bisa menata prioritasmu. Meminta maaf. Melanjutkan sebuah proyek. Menjaga kesehatanmu. Mempelajari sesuatu yang baru. Meninjau cara kamu mencintai. Atau sekadar menopang dirimu dengan sabar sambil menunggu badai berlalu.
Itu juga bentuk bertumbuh.
Contoh sejarah tentang kreativitas dan ketangguhan di masa sulit
Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa banyak orang menggunakan masa-masa sulit sebagai kesempatan untuk mencipta, berpikir, atau melayani dengan cara lain.
Selama wabah pes yang melanda London pada abad ke-17, teater-teater ditutup demi keamanan. William Shakespeare melewati masa isolasi itu dan, dalam periode ketidakpastian yang intens tersebut, menulis beberapa karyanya yang paling dikenang, seperti King Lear, Macbeth, dan Antony and Cleopatra.
Pada tahun 1665, sebuah epidemi besar pes bubonik melanda Britania Raya. Kelas-kelas di Universitas Cambridge ditangguhkan dan seorang Isaac Newton muda harus pulang ke rumah. Masa pengasingan itu membawanya mengembangkan gagasan-gagasan fundamental yang berkaitan dengan kalkulus, gravitasi, dan cahaya.
Pada tahun 1918, pandemi influenza menjangkau banyak penjuru dunia. Walt Disney, yang saat itu masih sangat muda, bergabung dengan Palang Merah dengan keinginan untuk membantu. Kemudian, setelah melewati kesulitan pribadi dan profesional juga, ia menciptakan karakter-karakter yang menandai sejarah animasi, termasuk Mickey Mouse.
Contoh-contoh ini tidak berarti bahwa sebuah krisis itu “baik”. Krisis memang menyakitkan. Pandemi meninggalkan kehilangan yang nyata. Namun semua itu mengingatkan kita akan sesuatu yang penting: bahkan di masa-masa gelap, manusia tetap bisa mencipta, belajar, membantu, dan membangun kembali dirinya.
Apa yang bisa kamu kendalikan ketika semuanya tampak tidak pasti
Ini bukan pandemi pertama dalam sejarah dan, kemungkinan besar, bukan pula krisis global terakhir yang akan kita alami sebagai umat manusia. Kita juga tidak perlu menunggu situasi ekstrem lainnya untuk memetik pelajaran ini.
Kita tidak bisa mengendalikan sebuah virus, keputusan pemerintah, atau tindakan semua orang di sekitar kita. Tetapi kita bisa bekerja atas pikiran, keputusan, dan tindakan harian kita.
Di situlah letak ruang kuasamu. Tidak mutlak, tetapi ada.
Kamu bisa memilih untuk mencari informasi tanpa terus-menerus meracuni dirimu dengan berita sepanjang hari. Kamu bisa memilih merawat tubuhmu, meski hanya dengan berjalan kaki singkat atau makan yang lebih bergizi. Kamu bisa memilih menelepon seseorang yang sedang sendirian. Kamu bisa memilih untuk tidak bereaksi dari amarah. Kamu bisa memilih meminta bantuan jika kamu merasa tidak sanggup lagi.
Jika kamu merasa pikiranmu terlalu cepat berlari, artikel tentang perubahan sederhana untuk mengatur ulang sistem sarafmu ini bisa memberimu ide konkret untuk sedikit meredakan intensitas emosi.
Cara kamu bertindak selama masa sulit dapat mengubah selamanya cara kamu memandang hidup.
Mungkin dulu kamu menganggap remeh sebuah pelukan, pertemuan keluarga, kebebasan berjalan tanpa takut, percakapan tatap muka, atau kesempatan duduk di sebuah kafe. Setelah krisis, hal-hal sederhana itu kembali bernilai.
Menggunakan krisis untuk meninjau hidupmu, hubunganmu, dan prioritasmu
Krisis juga bisa menjadi jeda yang dipaksakan. Dan meski tidak selalu nyaman, ia dapat membuka pintu untuk meninjau aspek-aspek yang selama ini kamu tunda.
Kamu bisa bertanya pada diri sendiri:
- Apa yang selama ini aku pertahankan hanya karena kebiasaan?
- Hubungan apa yang perlu aku perbaiki dengan jujur?
- Hubungan apa yang menyakitiku dan sudah tidak ingin lagi aku benarkan?
- Bagian hidupku yang mana yang meminta lebih banyak ketenangan?
- Impian apa yang kutinggalkan karena kurang waktu atau karena takut?
Mungkin ini saat yang tepat untuk memperbaiki hubungan yang retak. Atau untuk mengakui bahwa sebuah hubungan toksik sudah tidak punya tempat lagi dalam hidupmu. Ini juga bisa menjadi kesempatan untuk memandang dunia batinmu dengan lebih penuh welas asih.
Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Terkadang, langkah pertama adalah menuliskan apa yang kamu rasakan. Mengungkapkan rasa takut, amarah, atau sedih ke dalam kata-kata membantu menata pikiran. Jika kamu tertarik mencobanya, kamu bisa mendalami bagaimana menulis jurnal pribadi membantu pertumbuhan batin.
Fokuslah pada masa kini dan pikirkan apa yang bisa kamu lakukan hari ini untuk membangun hari esok yang sedikit lebih baik.
Kamu tidak membutuhkan transformasi yang spektakuler. Kamu membutuhkan tindakan yang jujur. Sebuah panggilan. Sebuah permintaan maaf. Sebuah batasan. Sebuah jalan kaki. Satu malam istirahat. Sebuah rencana kecil.
Saat kamu tidak tahu harus berbuat apa dengan seluruh masa depanmu, kembalilah ke hari ini. Tanyakan pada diri sendiri: apa yang bisa aku lakukan dalam beberapa jam ke depan?
Pelajaran emosional yang ditinggalkan oleh krisis yang mendalam
Suatu hari nanti kamu akan menoleh ke belakang dan mengingat apa yang diajarkan pandemi kepadamu. Mungkin kamu tidak akan mengingatnya dengan gembira, karena ada rasa sakit yang nyata. Tetapi mungkin kamu bisa mengenali bahwa fase itu menunjukkan sesuatu yang sebelumnya tak kamu lihat.
Ia mengingatkanmu bahwa hidup bisa berubah dalam sekejap. Bahwa rencana itu penting, tetapi tidak tertulis di atas batu. Bahwa kesehatan, hubungan, dan kedamaian batin lebih berharga daripada yang sering kita akui.
Ia juga mengajarkanmu untuk menghargai hal-hal sehari-hari. Meja makan yang dibagi bersama. Kunjungan tak terduga. Pelukan yang lama. Tawa tanpa layar di antaranya. Kebebasan untuk bergerak. Kehadiran orang-orang yang kamu cintai.
Jika kamu sedang berada dalam fase ketika kamu merasa perlu mengarahkan ulang hidupmu, mungkin membaca tentang merangkul perubahan dan memahami mengapa tidak pernah ada kata terlambat akan menemanimu. Terkadang, hidup tidak meminta kita memulai dari nol, melainkan memulai dari tempat yang lebih sadar.
Setiap awan bisa menyimpan seberkas harapan. Tidak selalu kita melihatnya pada awalnya. Kadang ia muncul kemudian, ketika rasa takut mereda dan kita bisa memandang dengan perspektif yang lebih luas.
Ini bisa menjadi kesempatanmu untuk memimpin hidupmu sendiri dengan lebih sadar, bukan terjebak dalam kepanikan.
Kamu tidak harus mengubah seluruh dunia. Kamu bisa memulainya dari duniamu yang terdekat. Rumahmu. Kebiasaanmu. Hubungan-hubunganmu. Cara kamu berbicara pada diri sendiri. Cara kamu merawat apa yang kamu cintai.
Dan jika suatu saat kamu merasa sedang menyia-nyiakan pengalaman yang telah dilalui, ingatlah bahwa bahkan pengalaman paling sulit pun bisa berubah menjadi pelajaran. Untuk terus memikirkannya, kamu bisa membaca cara memanfaatkan setiap pengalaman dalam hidupmu.
Apa yang akan kamu lakukan dengan waktu yang sedang dihadapkan kehidupan kepadamu?
Jawabannya tidak harus sempurna. Jawaban itu hanya perlu menjadi milikmu.