Daftar isi
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Sebuah sekuel yang tak terduga
Ketika saya mendengar bahwa akan ada sekuel 'Joker', saya berpikir: "Keren! Lebih banyak kegilaan!" Tetapi setelah melihat 'Joker: Folie à Deux', wajah saya tampak seperti meme kekecewaan.
Dalam 'Joker', Todd Phillips berhasil membuat kita terbenam dalam pikiran tertekan Arthur Fleck, seorang badut yang bermimpi menjadi komedian di masyarakat yang mengabaikannya.
Sebuah musikal yang menantang logika
De entrada, konsep sebuah musikal yang berdasarkan pada alam semesta 'Joker' membuat saya menggaruk-garuk kepala. Sebuah musikal? Serius! Apa selanjutnya? 'Joker: Komedi Musikal'? Ide untuk melihat Phoenix dalam sebuah nomor musikal seperti membayangkan ikan terbang. Premis 'Folie à Deux' menyiratkan sebuah koneksi antara dua kegilaan, tetapi yang saya rasakan sebenarnya adalah bahwa karakter-karakter tersebut terjebak dalam semacam limbo emosional.
Nomor-nomor musikal berusaha menawarkan napas sejenak dari kerasnya kenyataan kehidupan di penjara, tetapi alih-alih menjadi pelarian, mereka malah menjadi penyiksaan. Apakah ada yang merasa seperti ini? Atau hanya saya saja? Kimia antara Phoenix dan Gaga begitu tidak ada sehingga tampaknya keduanya berada di planet yang berbeda.
Sebuah bencana yang terhitung
Film ini terasa seperti eksperimen yang gagal. Apakah ini kritik terhadap Hollywood? Apakah ini teriakan kebebasan kreatif? Atau, yang lebih buruk, apakah benar-benar dipikirkan bahwa ini akan berhasil? Elemen musik, hukum, dan cinta tidak cocok dalam teka-teki yang sudah membingungkan. Segala sesuatu yang bersinar di bagian pertama tampaknya di sini memudar dalam lautan pretensi.
Jika 'Joker' adalah perjalanan menuju kegilaan, 'Folie à Deux' terasa seperti jalan tanpa arah. Suasana halusinasi yang sebelumnya membuat kita terpaku di layar kini berubah menjadi serangkaian karikatur yang mencoba, tanpa berhasil, untuk menarik perhatian kita.
Akhir yang menyakitkan
Kesimpulan dari film ini terasa seperti napas kelelahan. Tidak ada penebusan, tidak ada makna, hanya sebuah tindakan pengorbanan yang, pada akhirnya, terasa kosong. Jika pernah ada niat untuk membuat sesuatu yang berani dan provokatif, itu telah hilang dalam kekacauan narasi yang tidak tahu ke mana arahnya.
'Joker: Folie à Deux' adalah pengalaman yang membuat seseorang bertanya-tanya: apakah ini yang sebenarnya kita inginkan? Jawabannya adalah "tidak". Mungkin kita seharusnya membiarkan Arthur Fleck di dunianya, di mana kegilaannya dan kesepiannya berdengung dengan kita semua.