Daftar isi
- Bagaimana mulai mempraktikkan menulis terapeutik
- 1. Menulis buku harian untuk memahami emosi Anda
- 2. Surat yang tidak akan Anda kirim untuk melepaskan hal yang belum terselesaikan
- 3. Menulis bebas untuk menenangkan pikiran yang berpacu
- 4. Puisi dan metafora untuk mengungkapkan perasaan yang sulit
- 5. Daftar pro dan kontra untuk mengambil keputusan
- Apa yang perlu dilakukan setelah menulis
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Pernahkah Anda menuangkan semua yang terpendam di dalam diri ke dalam buku harian, buku catatan, atau bahkan selembar tisu saat menunggu pesanan Anda?
Jika pernah, Anda sudah sedikit mencoba menulis terapeutik. Ini adalah alat yang sederhana, mudah diakses, dan sangat personal yang dapat membantu Anda menata pikiran, mengenali emosi, dan melihat masalah dari sudut pandang lain.
Ini bukan tentang menulis dengan indah atau menciptakan karya sastra. Anda juga tidak perlu memiliki ejaan yang baik atau tulisan tangan yang sempurna. Yang penting, Anda dapat mengekspresikan diri dengan jujur, tanpa terus-menerus mengoreksi diri dan tanpa membayangkan bahwa seseorang akan menghakimi Anda.
Menulis terapeutik menggunakan kata-kata untuk mengeksplorasi emosi, memproses pengalaman, dan mengenali konflik batin. Saat menulis, hal-hal yang berputar-putar di kepala Anda menjadi lebih nyata dan jelas bentuknya. Hal ini tidak selalu langsung menyelesaikan masalah, tetapi dapat mengurangi kebingungan dan menunjukkan apa yang Anda butuhkan.
Anda tidak harus menjadi Gabriel García Márquez. Anda hanya memerlukan beberapa menit, tempat yang relatif tenang, dan kemauan untuk mendengarkan diri sendiri.
Bagaimana mulai mempraktikkan menulis terapeutik
Pilih buku catatan yang dapat Anda simpan di tempat pribadi atau gunakan dokumen yang terlindungi. Mulailah dengan sesi selama lima hingga sepuluh menit. Jika suatu hari Anda tidak tahu harus mengatakan apa, tuliskan saja itu: “Saya tidak tahu harus menulis apa, tetapi saat ini saya merasa...”. Sering kali, kalimat tersebut membuka pintu menuju hal yang tersembunyi.
Jangan memaksa diri untuk langsung membaca ulang semuanya. Beberapa halaman perlu dibiarkan sejenak. Dan jika suatu latihan memicu kecemasan yang intens atau membangkitkan kenangan sulit, Anda dapat berhenti, bernapas, dan mencari dukungan profesional. Menulis dapat mendampingi proses terapi, tetapi tidak menggantikan bantuan psikologis saat Anda membutuhkannya.
1. Menulis buku harian untuk memahami emosi Anda
Apakah Anda ingat buku harian remaja yang memakai gembok? Orang dewasa juga bisa memilikinya. Menulis buku harian memungkinkan Anda meluapkan perasaan dan mengamati bagaimana emosi berubah dari hari ke hari.
Cobalah latihan ini: sisihkan sepuluh menit sebelum tidur dan tuliskan apa yang terjadi sepanjang hari Anda. Apa hal terbaiknya? Apa yang membuat Anda tidak nyaman? Adakah percakapan yang masih terus Anda pikirkan? Apakah Anda bereaksi terhadap seseorang padahal sebenarnya sedang lelah atau khawatir?
Anda tidak perlu menceritakan setiap detail. Anda dapat melengkapi tiga kalimat: “Hari ini saya bersyukur atas...”, “Hari ini saya terluka karena...” dan “Besok saya perlu...”. Jika ingin mendalami kebiasaan ini, membaca alasan mengapa menulis buku harian pribadi mendukung pertumbuhan batin juga dapat membantu Anda.
2. Surat yang tidak akan Anda kirim untuk melepaskan hal yang belum terselesaikan
Tulislah surat kepada seseorang yang masih memiliki urusan yang belum terselesaikan dengan Anda. Orang itu bisa mantan pasangan, anggota keluarga, teman, atau bahkan versi diri Anda di masa lalu. Ungkapkan apa yang Anda pendam, apa yang menyakiti Anda, dan hal yang kini Anda pahami.
Tujuannya bukan untuk mengirimkannya. Tujuannya adalah memberi diri Anda izin untuk berbicara tanpa filter dan menemukan emosi mana yang membutuhkan perhatian. Mungkin Anda menemukan kemarahan di balik kesedihan, atau ketakutan di balik sikap yang tampak tidak peduli.
Setelah selesai, putuskan apa yang akan Anda lakukan dengan surat itu. Anda dapat menyimpannya, merobeknya, atau memusnahkannya dengan cara yang aman. Jika memilih untuk menyimpannya, letakkan di tempat pribadi agar tidak tanpa sengaja sampai kepada penerimanya.
3. Menulis bebas untuk menenangkan pikiran yang berpacu
Menulis bebas berarti membiarkan pikiran mengalir tanpa tujuan tertentu. Atur pengatur waktu selama lima, sepuluh, atau lima belas menit, lalu tuliskan tanpa berhenti apa pun yang muncul.
Jangan menghapus, jangan menata, dan jangan khawatir jika Anda berpindah dari tagihan yang belum dibayar ke kenangan masa kecil. Hasilnya mungkin terlihat kacau, tetapi aliran ini sering kali mengungkap kekhawatiran yang berulang, keinginan yang diabaikan, atau tugas-tugas yang menguras energi mental.
Jika kecemasan sangat terasa, Anda dapat mulai dengan menggambarkan apa yang Anda rasakan di sekitar: suhu, suara, sentuhan kaki Anda pada lantai. Setelah itu, tuliskan: “Pada saat ini, pikiran saya mengatakan...”. Perubahan kecil ini membantu Anda mengamati pikiran tanpa otomatis menganggapnya sebagai kebenaran.
Anda juga dapat melengkapi latihan ini dengan teknik Jepang untuk menenangkan kecemasan ini.
4. Puisi dan metafora untuk mengungkapkan perasaan yang sulit
Ada emosi yang sulit dijelaskan secara langsung. Dalam kasus tersebut, metafora dapat mendekatkan Anda pada apa yang dirasakan. Anda tidak perlu menganggap diri sebagai orang kreatif atau mematuhi aturan puisi.
Bayangkan kesedihan Anda sebagai badai di dalam secangkir kopi. Seperti apa rasanya hari ini? Jika kekhawatiran Anda adalah sebuah ruangan, apakah ruangan itu memiliki jendela? Jika harapan Anda adalah tanaman, apa yang dibutuhkannya untuk tumbuh?
Gambaran-gambaran ini menciptakan jarak yang lembut dari emosi. Terkadang lebih mudah menggambarkan “sebuah batu di atas dada” daripada langsung menemukan nama yang tepat untuk sesuatu yang terasa begitu membebani.
5. Daftar pro dan kontra untuk mengambil keputusan
Saat menghadapi keputusan penting, membagi selembar kertas menjadi dua kolom dapat memberi Anda kejelasan. Catat manfaat dan kemungkinan kerugian dari berganti pekerjaan, pindah rumah, mengakhiri hubungan, atau mengadopsi hewan.
Jangan hanya menghitung jumlah poin yang muncul di setiap kolom. Perhatikan seberapa besar arti masing-masing bagi Anda. Satu kerugian yang berkaitan dengan keamanan atau nilai-nilai Anda dapat lebih penting daripada lima keuntungan kecil.
Tambahkan pertanyaan-pertanyaan ini: pilihan mana yang mendekatkan saya pada kehidupan yang saya inginkan? Apa yang saya pilih karena takut? Informasi apa yang belum saya miliki? Dan nasihat apa yang akan saya berikan kepada orang terkasih yang berada dalam situasi saya? Jika Anda masih buntu, artikel ini mengenai hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan berisiko dapat menjadi panduan bagi Anda.
Apa yang perlu dilakukan setelah menulis
Setelah selesai, bernapaslah perlahan dan perhatikan bagaimana kondisi tubuh Anda. Anda dapat menggarisbawahi satu kalimat penting atau mencatat satu tindakan kecil yang realistis. Mungkin Anda perlu berbicara dengan seseorang, beristirahat, menetapkan batasan, atau meminta bantuan.
Menulis terapeutik dapat memberi Anda dorongan yang dibutuhkan untuk lebih memahami diri sendiri dan mengambil keputusan yang lebih sadar. Anda hanya memerlukan kertas dan pena, meskipun selembar tisu dan pensil alis juga dapat berguna dalam keadaan darurat kreatif 🙂.
Tidak ada aturan yang kaku. Anda dapat menulis setiap hari atau hanya saat merasa bingung. Anda dapat menyimpan halaman-halaman Anda atau membuangnya. Yang terpenting adalah ruang ini terasa aman dan jujur bagi Anda.
Manakah dari teknik-teknik ini yang paling menarik perhatian Anda? Pilih satu dan cobalah hari ini selama lima menit. Jangan mencari pengungkapan luar biasa. Terkadang, menuliskan satu kebenaran yang sudah lama Anda hindari saja sudah merupakan sebuah perubahan.
Untuk terus menjaga kesejahteraan Anda, Anda dapat membaca artikel ini:
Temukan metode baru ini untuk menjadi lebih bahagia dalam hidup Anda