Daftar isi
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Mengapa kerentanan juga merupakan kekuatan maskulin
Siapa bilang menjadi rentan adalah tanda kelemahan? Selama bertahun-tahun, maskulinitas dikaitkan dengan ketangguhan, kendali, dan kewajiban untuk menanggung segalanya dalam diam. Namun, mengakui emosi dan meminta bantuan membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar daripada menyembunyikan apa yang sedang terjadi.
Dalam rangka Hari Perawatan Diri Sedunia, yang diperingati setiap 24 Juli, Dove Men+Care mengajak kita meninjau kembali gagasan-gagasan tersebut. Merawat diri bukanlah kemewahan ataupun praktik yang hanya diperuntukkan bagi perempuan. Ini adalah kebutuhan manusia yang mencakup tubuh, pikiran, relasi, dan istirahat.
Menurut sebuah studi yang disebarluaskan oleh Dove Men, anak laki-laki mulai merasakan beban stereotip gender pada sekitar usia 10 tahun. Pada usia 14 tahun, hampir separuh dari mereka akan menghindari mencari dukungan emosional. Hal ini menunjukkan bahwa kalimat yang tampak tidak berbahaya seperti “laki-laki tidak boleh menangis” atau “kamu harus kuat” dapat mengajarkan mereka untuk menyembunyikan apa yang mereka rasakan.
Kabar baiknya, narasi tersebut dapat berubah. Semuanya dimulai ketika seorang dewasa mendengarkan tanpa mengejek, membiarkan anak menangis, atau mengakui dengan wajar: “hari ini saya tidak merasa baik”. Menunjukkan sisi kemanusiaan juga mengajarkan kekuatan.
Bagaimana stigma maskulin memengaruhi kesejahteraan emosional
Studi yang sama menunjukkan bahwa 59% pria merasa tertekan untuk terlihat kuat, meskipun sering kali citra itu hanyalah sebuah topeng. Selain itu, hampir separuh menganggap bahwa perawatan diri bukanlah sesuatu yang “maskulin”. Namun, siapa yang memutuskan bahwa beristirahat, membicarakan emosi, atau memperhatikan kesehatan diri sendiri mengurangi maskulinitas?
Tekanan ini dapat muncul dalam bentuk-bentuk sehari-hari: memendam kekhawatiran agar tidak terlihat lemah, mengabaikan kelelahan, menghindari konsultasi dengan profesional, atau merespons dengan kemarahan ketika sebenarnya sedang merasa takut, sedih, atau frustrasi.
Masalah ini tidak hanya memengaruhi orang yang menekan emosinya. Hal ini juga dapat berdampak pada pasangan, anak-anak, persahabatan, dan lingkungan kerja. Ketika tidak ada kata-kata untuk mengungkapkan rasa sakit, rasa sakit itu dapat berubah menjadi isolasi, mudah marah, atau jarak emosional.
Membuka dialog adalah hal yang mendasar. Kamu dapat memulainya dengan pertanyaan sederhana: “Bagaimana keadaan saya sebenarnya?”. Kemudian, cobalah menjawabnya tanpa meremehkan apa yang kamu rasakan. Jika kamu merasa sulit mengungkapkannya dengan kata-kata, menulis secara terapeutik untuk menata emosi dapat memberimu titik awal.
Maskulinitas baru dan kebiasaan perawatan diri
Maskulinitas baru muncul sebagai alternatif bagi model-model kaku dari masa lalu. Maskulinitas ini tidak berupaya memaksakan satu-satunya cara untuk menjadi pria. Sebaliknya, maskulinitas baru mengajak seseorang menjalani identitasnya dengan lebih bebas, bertanggung jawab secara emosional, dan penuh rasa hormat, tanpa harus membuktikan ketangguhan setiap saat.
Seorang pria yang merawat dirinya dan mengizinkan dirinya untuk merasakan emosi dapat lebih siap menjadi ayah yang hadir, teman yang tulus, atau pasangan yang mampu mendengarkan. Perawatan diri tidak terbatas pada rutinitas estetika. Perawatan diri juga berarti memperhatikan kesehatan fisik, emosional, dan mental.
Hal ini dapat diterapkan melalui tindakan yang sangat konkret:
- Tidur dan beristirahat sebelum mencapai titik kelelahan.
- Berbicara dengan seseorang yang tepercaya saat sebuah situasi terasa terlalu berat.
- Menetapkan batasan tanpa menggunakan agresivitas.
- Melakukan aktivitas fisik demi kesejahteraan, bukan hanya demi penampilan.
- Mencari pendampingan profesional ketika ketidaknyamanan berlanjut atau mengganggu kehidupan sehari-hari.
Kamu tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Kamu dapat memulai dengan mengakui satu emosi setiap hari atau meluangkan beberapa menit untuk melakukan sesuatu yang menenangkanmu. Jika kamu sulit berhenti karena merasa harus selalu produktif, membaca alasan mengapa terus-menerus sibuk merugikan kesejahteraan juga dapat membantumu.
Mendidik anak-anak dan remaja tanpa menekan emosi mereka
Mengadopsi maskulinitas yang lebih sadar juga mengubah cara mengasuh anak. Bayangkan seorang ayah yang mengajarkan putranya untuk membela diri, tetapi juga untuk meminta maaf; untuk tekun, tetapi tanpa merasa malu karena menangis; untuk peduli kepada orang lain, tanpa melupakan dirinya sendiri.
Anak-anak belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka amati daripada dari nasihat. Ketika mereka melihat seorang pria mengungkapkan kasih sayang, mengakui kesalahan, atau meminta bantuan, mereka memahami bahwa emosi tidak mengancam identitas mereka.
Alih-alih mengatakan “jangan menangis”, kita dapat bertanya: “apa yang terjadi?” atau “kamu mau bicara?”. Perubahan kecil ini memberikan dukungan dan membantu mengembangkan kosakata emosional yang akan berguna sepanjang hidup.
Bagaimana mulai menantang norma-norma tradisional
Ajakan Dove Men+Care adalah untuk mempertanyakan tuntutan yang memaksa pria untuk diam. Hari Perawatan Diri Sedunia dapat menjadi pengingat, tetapi percakapan ini perlu berlanjut sepanjang tahun.
Tanyakan pada dirimu sendiri, berapa kali kamu mengesampingkan kesejahteraanmu demi memenuhi harapan orang lain. Mungkin kamu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja agar tidak membuat siapa pun khawatir. Bisa jadi kamu menunda istirahat atau menghindari meminta dukungan karena takut dihakimi. Mengamati pola-pola ini tanpa menyalahkan diri sendiri sudah merupakan sebuah kemajuan.
Hari ini kamu dapat memilih satu tindakan kecil: menelepon seorang teman, mengungkapkan kekhawatiran, menjadwalkan konsultasi yang tertunda, atau mengatakan bahwa kamu perlu beristirahat. Merawat diri tidak membuatmu kurang kuat; hal itu memungkinkanmu menggunakan kekuatanmu dengan cara yang lebih sehat.
Meninggalkan mitos tentang pria yang tidak rentan bermanfaat bagi semua orang. Ini memperbaiki komunikasi, mendekatkan keluarga, dan menciptakan relasi yang lebih jujur. Kamu tidak harus menjadi orang lain. Kamu hanya perlu memberi dirimu izin untuk menjadi manusia, dengan segala yang menyertainya. Perubahan dapat dimulai dengan kalimat sesederhana: “saya perlu bicara”.