Daftar isi
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Sebuah video yang baru-baru ini disebarkan di media sosial telah memicu kontroversi karena memperlihatkan bagaimana sebuah perusahaan di Tiongkok diduga menggunakan kecerdasan buatan untuk memantau para pekerjanya.
Dalam gambar tersebut terlihat sebuah kantor dengan beberapa orang di depan komputer mereka. Pada saat yang sama, sebuah sistem berbasis pengenalan wajah tampaknya mencatat kapan setiap karyawan sedang bekerja dan kapan mereka beristirahat.
Teknologi tersebut memungkinkan identifikasi gerakan dan perhitungan berapa lama setiap pekerja berada di tempat kerjanya, sekaligus menandai waktu istirahat mereka. Semua itu akan terjadi secara otomatis dan nyaris seketika.
Apakah video tentang pengawasan kerja dengan AI ini nyata?
Video yang terkait dengan artikel ini menjadi viral dalam hitungan jam. Namun, hingga saat ini belum diketahui secara pasti perusahaan mana yang muncul dalam rekaman tersebut.
Belum pula dikonfirmasi apakah sistem itu benar-benar beroperasi, apakah ini merupakan demonstrasi teknologi, atau apakah konten tersebut dibuat untuk menarik perhatian di media sosial. Karena itu, sebaiknya video ini disikapi dengan hati-hati dan menghindari kesimpulan pasti tanpa informasi lebih lanjut.
Kecerdasan buatan, produktivitas, dan privasi karyawan
Kecerdasan buatan dapat membantu mengatur tugas, mendeteksi proses yang berulang, serta meningkatkan beberapa aspek produktivitas. Masalah muncul ketika efisiensi tersebut berubah menjadi pengawasan terus-menerus dan kontrol yang berlebihan.
Mencatat setiap waktu istirahat, gerakan, atau momen tidak aktif memunculkan pertanyaan penting mengenai privasi. Hal ini juga mendorong kita untuk memikirkan siapa yang dapat mengakses data tersebut, berapa lama data itu disimpan, dan bagaimana data itu dapat digunakan untuk menilai atau memberikan sanksi kepada seseorang.
Apakah perlu mengontrol waktu karyawan sedemikian rinci? Dampak apa yang dapat ditimbulkan pengawasan ini terhadap kesejahteraan emosional, otonomi, dan cara mereka bekerja?
Bagaimana pengawasan terus-menerus dapat memengaruhi pekerjaan
Dalam artikel tersebut, pakar hubungan ketenagakerjaan Susana Santino menyatakan bahwa praktik seperti ini dapat mendorong terciptanya lingkungan kerja yang toksik, ditandai oleh ketidakpercayaan dan kurangnya otonomi. Menurut penjelasannya, dinamika tersebut dapat memengaruhi motivasi dan komitmen para karyawan.
“Jika mereka merasa terus-menerus diawasi dan dikendalikan, kemungkinan kinerja dan kreativitas mereka akan menurun”, tambah Santino.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang merasa setiap gerak-geriknya sedang diukur bisa saja akhirnya lebih memperhatikan sistem daripada tugasnya sendiri. Bahkan jeda singkat untuk minum air, mengistirahatkan mata, atau memikirkan solusi dapat dirasakan dengan tegang.
Teknologi tidak selalu menjadi masalah. Perbedaannya terletak pada bagaimana teknologi itu diterapkan. Transparansi, batasan yang jelas, dan penghormatan terhadap privasi sangat penting agar sebuah alat digital tidak berubah menjadi sumber tekanan.
Untuk saat ini, belum ada rincian baru yang terungkap mengenai asal video tersebut maupun perusahaan yang diduga menggunakan sistem ini. Meski begitu, gambar-gambar itu telah membuka percakapan yang penting: sejauh mana kontrol teknologi dapat diterapkan di tempat kerja dan batas apa yang seharusnya melindungi manusia.
Using AI to monitor employees' productivity in China.pic.twitter.com/6YXY3oSiZY
— Massimo (@Rainmaker1973) May 10, 2024