Daftar isi
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Serangan serebrovaskular, yang juga dikenal sebagai stroke, merupakan salah satu penyebab afasia yang paling umum. Gangguan yang berasal dari otak ini dapat memengaruhi kemampuan untuk memahami, menghasilkan, membaca, atau menulis bahasa.
Diperkirakan sekitar 40% orang yang mengalami stroke mengembangkan afasia dalam tingkat tertentu. Selain itu, kira-kira setengahnya masih terus mengalami gejala satu tahun setelah kejadian awal.
Kesulitannya dapat sangat beragam. Sebagian orang tahu apa yang ingin mereka katakan, tetapi tidak dapat menemukan kata-katanya. Yang lain mengalami kesulitan membentuk kalimat, memahami percakapan, atau mengikuti teks tertulis. Hal ini dapat menimbulkan frustrasi, rasa tidak percaya diri, dan isolasi sosial.
Penelitian yang dilakukan di Finlandia menawarkan sudut pandang yang penuh harapan: bernyanyi dapat membantu memulihkan produksi bicara dan mendorong perubahan positif dalam jaringan bahasa di otak. Temuan ini menyoroti kemampuan neuroplastisitas otak, yaitu kemampuannya untuk menata ulang diri dan membentuk koneksi baru setelah mengalami cedera.
Bagaimana bernyanyi membantu memulihkan bahasa setelah stroke
Para peneliti dari Universitas Helsinki mempelajari bagaimana musik, dan khususnya bernyanyi, dapat berkontribusi pada rehabilitasi pasien dengan afasia pascastroke.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah eNeuro ini menganalisis perubahan yang terjadi pada struktur otak yang berkaitan dengan bahasa.
Menurut hasil penelitian, bernyanyi membantu menata ulang dan memperkuat jaringan struktural yang memproses bicara dan bahasa. Pada orang dengan afasia, sebagian jaringan ini telah rusak akibat serangan serebrovaskular.
Aleksi Sihvonen, peneliti dari Universitas Helsinki, menjelaskan bahwa temuan tersebut untuk pertama kalinya menunjukkan rehabilitasi melalui bernyanyi berkaitan dengan perubahan neuroplastisitas. Jadi, ini bukan hanya tentang merasa lebih baik saat mendengarkan musik: perubahan nyata pada otak juga teramati.
Perubahan yang dihasilkan bernyanyi pada jaringan bahasa di otak
Jaringan bahasa mencakup wilayah-wilayah korteks serebral yang berperan dalam pemahaman dan produksi bicara. Jaringan ini juga mencakup traktus materi putih, semacam jalur komunikasi yang memungkinkan informasi dikirimkan antara berbagai area otak.
Bernyanyi meningkatkan volume materi abu-abu pada wilayah bahasa yang berada di lobus frontal kiri dan memperbaiki konektivitas beberapa traktus otak. Perubahan tersebut terutama tampak pada jaringan bahasa di belahan otak kiri, meskipun perbaikan juga tercatat di belahan kanan.
Hal ini penting karena bernyanyi menggabungkan kata-kata, melodi, ritme, pernapasan, ingatan, dan gerakan. Keterlibatan berbagai kemampuan secara bersamaan tersebut dapat merangsang beberapa area otak serta membuka jalur alternatif untuk berkomunikasi.
Para peneliti juga mengamati bahwa perubahan positif tersebut berkaitan dengan produksi bicara yang lebih baik. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat berarti lebih mudah mengucapkan kata-kata, menyelesaikan kalimat, atau ikut serta dalam percakapan.
Bagaimana studi tentang bernyanyi dan afasia dilakukan
Penelitian ini melibatkan 54 pasien dengan afasia. Dari jumlah tersebut, 28 orang menjalani pemindaian resonansi magnetik pada awal dan akhir studi, sehingga memungkinkan perbandingan struktur dan konektivitas otak mereka.
Para ilmuwan menggunakan berbagai kegiatan: paduan suara, terapi musik, dan latihan bernyanyi yang dilakukan di rumah. Dengan demikian, mereka dapat mempelajari baik latihan yang didampingi profesional maupun penerapannya dalam rutinitas sehari-hari.
Bernyanyi dalam kelompok juga memiliki dimensi emosional yang berharga. Berbagi sebuah lagu memungkinkan seseorang ikut berpartisipasi tanpa hanya bergantung pada percakapan konvensional. Bagi seseorang yang mengalami kesulitan berbicara, merasa menjadi bagian dari kelompok dapat mengurangi rasa malu dan secara perlahan membangun kembali kepercayaan diri.
Meski demikian, hasilnya perlu ditafsirkan dengan hati-hati. Jumlah peserta terbatas dan masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengetahui siapa yang memperoleh manfaat paling besar, seberapa sering mereka sebaiknya bernyanyi, dan berapa lama latihan tersebut dilakukan.
Bernyanyi sebagai pelengkap rehabilitasi yang mudah diakses
Afasia dapat sangat memengaruhi kemandirian, hubungan dengan orang lain, dan kualitas hidup. Tindakan sehari-hari yang sederhana, seperti meminta sesuatu, menceritakan pengalaman, atau mengungkapkan emosi, dapat berubah menjadi tantangan yang melelahkan.
Dalam konteks ini, bernyanyi hadir sebagai pelengkap yang mudah diakses dan berbiaya rendah bagi terapi konvensional. Bernyanyi juga dapat memberikan dukungan pada kasus ringan atau ketika akses terhadap layanan khusus terbatas.
Pasien dapat bernyanyi bersama keluarga, mengikuti paduan suara yang disesuaikan, atau melakukan latihan yang dianjurkan oleh profesional. Di pusat pelayanan kesehatan, bernyanyi juga dapat diselenggarakan sebagai kegiatan kelompok yang menggabungkan rehabilitasi, stimulasi, dan interaksi sosial.
Latihan sederhana dapat dilakukan dengan memilih lagu yang sudah dikenal, mendengarkan satu bait, lalu menyanyikannya tanpa terburu-buru. Lirik yang familier biasanya lebih mudah karena mengaktifkan ingatan musikal dan emosional. Yang penting bukanlah bernyanyi dengan nada yang sempurna, melainkan berpartisipasi dengan sabar tanpa menjadikan latihan ini sebagai ujian.
Bernyanyi tidak menggantikan evaluasi neurologis, terapi bahasa, maupun rehabilitasi yang dianjurkan untuk setiap pasien. Kegiatan ini harus dipahami sebagai alat pelengkap. Dalam menghadapi afasia pascastroke, pendampingan dari profesional seperti ahli saraf, terapis wicara, atau logopedis tetap sangat penting.
Musik, emosi, dan pemulihan otak
Bernyanyi tidak hanya mengaktifkan bahasa. Kegiatan ini juga dapat membangkitkan kenangan, mengatur pernapasan, dan menciptakan momen keterhubungan dengan orang lain. Bagi keluarga yang sedang menghadapi dampak stroke, menyanyikan lagu yang dikenal bersama-sama dapat membuka sebuah pintu kecil ketika kata-kata tidak kunjung muncul.
Temuan Universitas Helsinki menunjukkan bahwa pengalaman emosional tersebut mungkin disertai oleh perubahan nyata di otak. Masih banyak hal yang perlu diteliti, tetapi kemungkinannya menggembirakan: musik dapat menjadi sekutu nyata dalam proses pemulihan yang kompleks dan sangat manusiawi. 🎵
Sumber berita: Helsinki.fi