Daftar isi
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Penurunan angka kelahiran: Apakah takdir yang tak terhindarkan atau kesempatan untuk menciptakan ulang diri?
Pada tahun 1950, kehidupan terasa seperti episode "The Flintstones": semuanya lebih sederhana, dan keluarga-keluarga besar. Wanita memiliki rata-rata lima anak. Saat ini, angka itu hampir tidak lebih dari dua.
Apa yang sedang terjadi?
Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan Universitas Washington, dalam studi yang diterbitkan di The Lancet, menyarankan bahwa hampir semua negara akan menghadapi penurunan populasi menjelang akhir abad ini.
Penuaan: apakah itu perangkap atau keuntungan?
Hitungannya jelas: lebih sedikit kelahiran dan lebih banyak kakek-nenek. Menjelang akhir abad ini, orang yang berusia di atas 80 tahun bisa setara dengan jumlah kelahiran. Apakah kita siap untuk dunia dengan lebih sedikit anak? Jawabannya tidak sesederhana itu.
Mengapa keluarga menjadi lebih kecil?
Perempuan hari ini memilih untuk belajar dan bekerja sebelum membentuk keluarga. Urbanisasi juga memainkan perannya: lebih sedikit ruang, lebih sedikit anak. Karen Guzzo dari Universitas Carolina Utara menyebutkan bahwa globalisasi dan perubahan pekerjaan telah mengubah jalan menuju kedewasaan, mendorong para pemuda untuk pindah ke kota, belajar lebih banyak dan, dalam prosesnya, menunda menjadi orang tua.
Sarah Hayford dari Universitas Negeri Ohio mengingatkan kita bahwa penurunan besar dalam angka kelahiran dimulai sekitar tahun 2008, di tengah Resesi Besar. Tampaknya prioritas individu tidak berubah sebanyak kondisi ekonomi yang mengelilinginya.
Dan sekarang apa?
Penurunan angka kelahiran tampaknya tidak dapat dibalikkan. Kebijakan pro-kelahiran telah mencoba mengubah tren ini, tetapi dengan hasil yang modest. Namun, tidak semuanya hilang. Rofman menyarankan bahwa, alih-alih mencoba membalikkan yang tak terhindarkan, kita harus beradaptasi dengan konteks baru ini dan fokus pada meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang.
Namun, dampaknya akan terasa: lebih sedikit pekerja, lebih banyak kakek nenek yang membutuhkan perawatan, dan ekonomi yang harus berinovasi. Kecerdasan buatan dan otomatisasi dapat menghilangkan pekerjaan, tetapi bidang seperti perawatan orang tua akan terus membutuhkan tangan manusia. Apakah kita siap untuk dunia di mana merawat orang tua kita menjadi lebih kritis dari sebelumnya?
Kuncinya terletak pada inovasi dan solidaritas. Kita perlu memikirkan kembali bagaimana membiayai pensiun dan kebutuhan kesehatan di dunia dengan lebih sedikit anak. Ini bukan hanya masalah angka; ini adalah masalah masa depan.