Saat kamu memasuki usia dua puluhan, sesuatu berubah. Kadang perubahan itu tidak terjadi begitu saja, melainkan lewat adegan-adegan kecil: pindah rumah, tagihan yang harus kamu bayar sendiri, pertemanan yang mulai mendingin, panggilan keluarga yang membuatmu terus berpikir semalaman.

Dalam kasusku, aku merasakannya dengan sangat kuat ketika masuk universitas di usia 22 tahun. Banyak hal bergerak sekaligus. Beberapa teman mulai bertunangan. Yang lain tidak lagi tinggal di ujung lorong karena masa kuliah sudah bukan lagi dunia kecil yang kami bagi bersama. Dan aku mulai memikul lebih banyak tanggung jawab atas uangku, waktuku, dan keputusanku.

Aku punya beberapa pekerjaan, tetapi tetap saja penghasilanku tidak terlalu besar. Aku merasa lelah hampir sepanjang waktu. Aku kuliah, memikirkan tesis, berusaha menjaga hubungan, ingin membangun karier, dan selain itu, juga berharap punya kejelasan tentang masa depanku. Seolah-olah itu semua semudah itu.

Sekarang, ketika melihat ke belakang, aku bisa menyadari bahwa orang tuaku, para guru, dan mentorku telah mempersiapkanku untuk banyak hal praktis dalam hidup dewasa. Mereka berbicara kepadaku tentang belajar, bekerja, berusaha, menabung, bertanggung jawab, dan tidak menyerah.

Namun ada pukulan-pukulan lain yang tidak sepenuhnya disiapkan oleh siapa pun untukku.

Kesulitan ekonomi bisa dipelajari cara menanganinya seiring waktu. Namun, hilangnya sebagian kepolosan emosional adalah hal yang lain. Tidak ada tangga sempurna menuju kesuksesan, juga tidak ada buku panduan hidup dasar, yang bisa melindungimu dari semua hal yang muncul ketika kamu benar-benar mulai tumbuh dewasa.

Usia dua puluhan bukan hanya soal pesta, perjalanan, kesempatan pertama, dan rencana-rencana yang gemilang. Ini juga fase ketika kamu mulai memandang hidup dengan mata yang berbeda. Kamu menyadari bahwa orang-orang yang kamu cintai tidak abadi. Bahwa tubuhmu berubah. Bahwa kampung halamanmu tetap memiliki bobot. Bahwa keluargamu menyimpan cerita-cerita yang tidak kamu ketahui. Dan bahwa beberapa pertemanan tidak akan bisa berjalan bersamamu selamanya.

Aku tidak mengatakan ini untuk menakut-nakutimu. Aku mengatakannya karena mengetahuinya bisa membantumu merasa tidak sendirian. Kamu juga bisa mendapatkan manfaat dari membaca mengapa masa kini lebih penting daripada masa depan, terutama jika fase ini membuatmu penuh pertanyaan.

1. Kematian dan duka datang lebih awal daripada yang kamu bayangkan



Banyak orang mengalami kehilangan orang terkasih di usia dua puluhan, meskipun tidak banyak yang membicarakannya.

Jika kamu tumbuh dengan kakek atau nenek yang hadir, mungkin kamu merasa mereka akan selalu ada. Dalam masa kanak-kanak dan remaja, para kakek-nenek sering terasa seperti bagian tetap dari lanskap emosional. Mereka hadir di ulang tahun, makan siang keluarga, cerita-cerita yang diulang, dalam cara mereka yang khas dalam merawatmu.

Karena itu, melihat mereka menua terasa begitu menyakitkan.

Sangat berat bagiku melihat kesehatan kakekku memburuk dengan cepat. Selama bertahun-tahun aku mengenalnya sebagai pria yang aktif, jernih, kuat, dan penuh wibawa. Lalu tiba-tiba aku harus menerima bahwa tubuhnya tidak lagi merespons seperti dulu. Tidak ada yang benar-benar menyiapkanmu untuk melihat seseorang yang kamu cintai menjadi rapuh.

Ketika kamu memiliki lebih dari dua puluh tahun kenangan bersama kakek-nenek yang sehat dan penuh kasih, kamu belajar menghargai waktu itu. Namun rasa syukur tidak menghapus rasa sakit. Itu hanya memberinya tempat yang lebih lembut di dalam dirimu.

Kamu juga mungkin harus melihat orang tuamu menderita. Dan itu menyakitkan dengan cara yang berbeda. Karena selama bertahun-tahun kamu melihat mereka sebagai orang-orang yang mampu menyelesaikan segalanya. Melihat mereka di titik paling rentan, lelah, sedih, atau hancur karena kehilangan, bisa sangat mengguncang.

Dalam saat-saat seperti itu kamu tidak perlu memiliki kata-kata yang sempurna. Kadang cukup dengan sebuah pelukan, tetap berada di dekat mereka, menyiapkan kopi, duduk diam di sisi seseorang yang sedang menangis.

Namun bukan hanya kakek-nenek yang pergi.

Kamu juga bisa mendengar bahwa seseorang yang dulu satu sekolah denganmu kalah melawan penyakit, kecanduan, atau masalah kesehatan mental. Bisa saja seorang guru, tetangga, orang yang kamu kenal sejak kecil, seseorang yang kamu lihat tumbuh dari jauh meninggal dunia. Dan meskipun dia bukan orang terdekatmu, sesuatu di dalam dirimu tetap bergeser.

Karena kematian mengingatkanmu bahwa hidup bukanlah janji yang tak berujung.

Ini bukan berarti hidup dalam ketakutan. Ini berarti belajar menghargai dengan lebih baik. Menelepon saat kamu ingin menelepon. Mengatakan aku sayang kamu tanpa menunggu momen yang sempurna. Berdamai bila memungkinkan. Berhenti menunda percakapan penting.

Duka tidak punya kalender yang pasti. Ada hari-hari ketika kamu merasa baik-baik saja dan ada hari-hari ketika sebuah lagu, bau, atau foto merobekmu dari dalam. Jika kamu sedang melewati sesuatu seperti itu, jangan menuntut dirimu untuk selalu kuat. Kesedihan juga butuh ruang untuk bernapas. 🕯️

2. Tubuhmu berubah dan harga dirimu juga perlu matang



Semua tubuh berubah. Kita tahu itu secara teori, tetapi menjalaninya adalah hal lain.

Di usia dua puluhan, kamu mungkin mulai menyadari tanda-tanda baru. Mungkin muncul selulit di tempat yang dulu tidak ada. Mungkin kamu lebih sulit mempertahankan berat badan tertentu. Mungkin lututmu berbunyi, punggungmu menegang, atau rasa lelah tidak lagi selesai hanya dengan tidur siang dua puluh menit.

Tidak selalu sesuatu yang dramatis. Tetapi itu bisa memengaruhi harga dirimu.

Selama bertahun-tahun kita dijual gagasan bahwa masa muda harus terlihat dengan satu cara saja: kulit sempurna, energi yang tak pernah habis, tubuh yang selalu siap untuk apa pun, tanpa bekas, tanpa lelah. Maka ketika tubuh berubah, banyak orang merasa seolah-olah mereka gagal.

Kamu tidak gagal. Kamu sedang hidup.

Metabolisme bisa berubah. Rutinitas juga bisa berubah. Mungkin dulu kamu makan apa pun dan tetap merasa ringan. Mungkin sekarang stres membuat tubuhmu kembung, tidurmu lebih buruk, atau energimu jauh lebih bergantung pada bagaimana kamu merawat dirimu.

Sebagian orang menjadi sedentari tanpa menyadarinya. Dari berjalan di kampus, keluar, bergerak, dan memiliki jadwal fleksibel, menjadi menghabiskan berjam-jam duduk di depan layar. Yang lain melewati kehamilan, duka, penyakit, pekerjaan yang menuntut, atau tanggung jawab keluarga yang mengubah sepenuhnya hubungan mereka dengan tubuh.

Keluhan fisik atau kesulitan emosional yang selama ini tersembunyi juga bisa muncul. Kadang ada riwayat keluarga berupa kecemasan, depresi, masalah hormonal, nyeri kronis, atau kondisi lain yang baru tampak saat hidup dewasa menjadi lebih menuntut.

Karena itu sangat penting untuk berhenti memperlakukan tubuh sebagai musuh.

Tubuhmu bukan proyek yang harus terus kamu perbaiki. Ia adalah rumahmu.

Rawatlah dengan hormat. Gerakkan tubuhmu dengan cara yang bisa kamu pertahankan. Makanlah dengan lebih sadar, bukan sebagai hukuman. Tidurlah sebaik yang kamu bisa. Lakukan pemeriksaan medis saat ada hal yang membuatmu khawatir. Mintalah bantuan profesional jika kamu merasa hubunganmu dengan citra tubuh atau makanan mulai terasa menyakitkan.

Dan, yang paling penting, berbicaralah pada dirimu dengan lebih lembut.

Kamu tidak harus mencintai setiap bagian tubuhmu setiap hari. Tetapi kamu bisa belajar untuk tidak menyerang dirimu sendiri. Itu sudah langkah yang sangat besar.

Jika kamu merasa stres, cemas, atau kurang energi mulai menguasaimu, artikel dengan tips untuk mengatasi kecemasan dan kegugupan ini bisa memberimu alat sederhana untuk mulai merawat dirimu dengan lebih baik.

3. Kampung halamanmu tetap penting meski kamu ingin pergi darinya



Ada fantasi yang sering diulang dalam film dan serial: seseorang tumbuh di tempat kecil, pindah ke kota besar, berhasil, dan tidak pernah menoleh ke belakang.

Kenyataan biasanya lebih rumit.

Bertahun-tahun kamu mungkin ingin lari dari kampung halamanmu. Mungkin kamu merasa tempat itu terlalu kecil, terlalu tertutup, terlalu tidak adil, atau terlalu sarat dengan kenangan yang ingin kamu tinggalkan. Mungkin pergi memang perlu. Bahkan sehat.

Namun itu tidak berarti tempat itu berhenti penting bagimu.

Aku dibesarkan di sebuah kota kecil bernuansa militer, dengan sejarah yang rumit, perubahan sosial yang kuat, dan perpecahan yang terlihat jelas. Banyak orang seusiaku memilih untuk tetap tinggal. Aku memilih kota universitas dengan lebih banyak kesempatan. Dan meskipun kotaku membaik dalam beberapa hal, hal-hal lain tetap hampir sama.

Kampung halaman bukan sekadar titik di peta. Di sanalah mungkin orang tuamu, kakek-nenekmu, paman dan bibimu, serta tetangga lamamu tinggal. Di sanalah kamu belajar menyeberang jalan, di sanalah kamu punya persahabatan pertama, di sanalah hatimu pertama kali patah, di sanalah kamu bermimpi untuk pergi.

Dan meskipun kamu sudah pergi, sebagian dari dirimu tetap memperhatikan.

Kamu senang mendengar seseorang dari lingkungan lamamu membuka usaha. Kamu terharu mengetahui teman sekolahmu membangun keluarga jika itu memang yang dia inginkan. Kamu tenang mengetahui keluargamu aman.

Namun itu juga menyakitkan.

Sakit mendengar bahwa seorang tetangga yang punya banyak potensi akhirnya terjerat masalah serius. Sakit mengetahui bahwa seseorang yang nyaris tidak kamu kenal meninggal secara mendadak. Sakit melihat kejahatan meningkat, gaji tidak mencukupi, transportasi umum tetap buruk, akses terhadap makanan, kesehatan, atau pendidikan masih terbatas.

Lalu kamu bertanya-tanya di mana mereka yang seharusnya menjaga komunitas itu dengan lebih baik.

Merasa seperti ini tidak berarti kamu ingin kembali. Itu juga tidak berarti kamu masih terikat pada semua yang kamu tinggalkan.

Itu berarti kamu punya empati.

Kamu pergi, tumbuh, atau pindah karena itulah yang perlu kamu lakukan. Tetapi mereka yang tetap tinggal juga berhak atas kehidupan yang layak. Mereka berhak atas kesempatan, keamanan, kegembiraan, dan masa depan.

Kadang kedewasaan adalah memahami bahwa kamu bisa mencintai sebuah tempat tanpa ingin tinggal di sana. Kamu bisa berterima kasih atas apa yang diberikannya dan, pada saat yang sama, mengakui apa yang menyakitimu. Kamu bisa menoleh ke belakang tanpa terjebak di sana.

4. Luka keluarga dan pola antargenerasi muncul ke permukaan



Dalam banyak keluarga dikatakan bahwa hal-hal tertentu adalah urusan orang dewasa. Tetapi seiring waktu kamu menyadari bahwa hal-hal itu juga memengaruhimu, meskipun tidak ada yang pernah menjelaskannya.

Di usia dua puluhan, banyak orang mulai melihat sejarah keluarganya dengan mata yang lebih jernih. Muncul percakapan yang tidak nyaman. Rahasia. Versi yang berbeda dari satu kisah yang sama. Luka-luka yang sebelumnya ditutupi dengan kalimat seperti: memang kami begini, dari dulu memang begitu, jangan tanya, jangan mengungkit masa lalu.

Menemukan kebenaran tertentu bisa sangat berat.

Bisa ada kisah tentang kekerasan, perselingkuhan, penelantaran, pelecehan, diam berkepanjangan, kecanduan, gangguan mental yang tidak ditangani, atau duka yang tak pernah diproses. Dan ketika kamu memahaminya, sebagian dari identitasmu ikut terguncang.

Karena kamu tidak lagi melihat keluargamu hanya sebagai tempat asalmu. Kamu mulai melihatnya juga sebagai sebuah sistem yang penuh pola.

Seiring kamu tumbuh, kamu menyadari hal-hal yang dulu kamu anggap normal. Mungkin kamu dulu mengira semua orang di keluargamu suka berteriak karena memang temperamental. Lalu kamu mengerti bahwa itu juga bisa menjadi bentuk kekerasan. Mungkin kamu percaya seseorang itu dingin karena karakternya keras. Lalu kamu menemukan bahwa dia tidak pernah belajar mengekspresikan kasih sayang.

Kadang, tradisi tidak lebih dari kebiasaan yang menutupi rasa sakit.

Ini tidak berarti membenci keluarga. Ini berarti melihat dengan jujur.

Kamu tidak bisa mengubah apa yang terjadi sebelum kamu lahir, tetapi kamu bisa memutuskan apa yang tidak ingin kamu ulangi.

Kesadaran itu bisa terasa berat. Tetapi juga bisa membebaskan. Karena ketika kamu mengenali sebuah pola, kamu berhenti bertindak secara otomatis. Kamu bisa bertanya pada diri sendiri: apakah ini milikku atau aku mewarisinya?, apakah aku benar-benar berpikir seperti ini atau aku diajari untuk takut?, apakah aku memilih dari keinginanku atau dari kesetiaan keluarga yang tak terlihat?

Usia dua puluhan adalah fase ketika kamu membuat keputusan penting. Bukan hanya tentang studi, pekerjaan, pasangan, atau kemandirian. Kamu juga memutuskan seperti apa orang yang ingin kamu jadi di dalam garis keturunanmu.

Kamu bisa memilih untuk membicarakan kesehatan mental. Kamu bisa memilih untuk pergi terapi. Kamu bisa memilih untuk membesarkan anak dengan cara berbeda jika suatu hari kamu punya anak. Kamu bisa memilih untuk memasang batas. Kamu bisa memilih untuk tidak membenarkan hal yang tak bisa dibenarkan hanya karena itu datang dari seseorang yang memiliki darah yang sama denganmu.

Proses ini tidak selalu cepat. Kadang sangat menyakitkan. Kadang kamu merasa bersalah karena melihat apa yang orang lain lebih memilih untuk menyangkal. Namun menyembuhkan diri bukan berarti mengkhianati keluargamu. Menyembuhkan diri bisa menjadi cara paling dalam untuk memutus sebuah rantai.

Jika tema ini terasa dekat denganmu, mungkin kamu juga akan terbantu dengan membaca tentang ketidakmatangan emosional dan bagaimana hal itu dapat menyabotase hubungan serta keputusan penting.

5. Pertemananmu berubah dan sebagian tidak lagi menemanimu



Semua berubah. Begitu juga pertemanan.

Ini adalah salah satu kebenaran paling sulit diterima di usia dua puluhan. Karena selama masa remaja atau kuliah kamu bisa merasa bahwa orang-orang tertentu akan bersamamu selamanya. Kalian berbagi jadwal, lorong, pesta, krisis, rahasia, makanan murah, mimpi besar, dan percakapan sampai larut malam.

Tetapi kemudian hidup membuka diri ke arah yang berbeda.

Temanmu pindah. Menikah. Punya anak. Memulai bisnis. Fokus pada karier. Mengubah nilai-nilai. Menjauh dari kota. Atau sekadar menjadi orang yang berbeda.

Kamu juga begitu.

Kadang perubahan itu indah. Sebuah persahabatan matang bersamamu. Kalian tidak lagi bertemu setiap hari, tetapi saat berbicara, kalian merasakan kepercayaan yang sama. Kalian saling menghormati, saling merayakan, dan saling mendampingi dari tempat yang berbeda.

Di lain waktu, perubahan itu menyakitkan.

Bisa jadi seorang teman perempuan tidak lagi kamu sukai seperti dulu. Kamu mulai menyadari sikap-sikap yang sebelumnya kamu abaikan. Seseorang mengkritik keputusanmu, mengejek minat barumu, atau merasa iri saat kamu maju. Bisa juga seseorang ingin mempertahankanmu di versi lamamu, karena pertumbuhanmu membuatnya tidak nyaman.

Atau sebaliknya: kamu melangkah dengan ritme yang berbeda dan orang lain tidak tahu bagaimana mengejarmu. Atau tidak mau. Dan itu menimbulkan ketegangan.

Ada pertemanan yang mulai bersaing. Ada yang menjadi menuntut. Ada yang hanya muncul saat membutuhkan sesuatu. Ada yang membuatmu merasa bersalah karena berubah.

Situasi-situasi ini menyakitkan karena tidak selalu ada pertengkaran besar. Kadang pertemanan pecah dalam diam. Sebuah pesan yang tak dibalas. Undangan yang tak lagi datang. Percakapan yang terasa dipaksakan. Kepercayaan yang perlahan padam.

Untuk waktu yang lama kita berusaha mempertahankan hubungan tertentu hanya karena ada sejarahnya. Kita berpikir: tapi kami sudah saling mengenal selamanya, kami sudah melalui begitu banyak hal, aku tidak bisa melepaskan ini.

Namun sejarah saja tidak selalu cukup.

Tidak semua orang yang penting di satu fase memang ditakdirkan untuk menemanimu di fase berikutnya.

Itu tidak membuat persahabatan menjadi palsu. Apa yang kalian alami itu nyata. Apa yang kalian bagi punya nilai. Tetapi mungkin kalian sudah tidak bisa saling menjaga dengan baik dari tempat kalian sekarang.

Kadang kamu perlu memberi jarak. Kadang kamu perlu berbicara dengan jujur. Kadang kamu perlu menerima bahwa sebuah persahabatan sudah menyelesaikan siklusnya.

Dan ya, itu menyakitkan. Itu bisa meninggalkan rasa kosong, kekecewaan, atau nostalgia. Kamu mungkin merasa berharap lebih dari orang itu. Kamu mungkin bertanya-tanya apakah kamu melakukan sesuatu yang salah.

Namun tidak semuanya hilang.

Akan datang juga persahabatan baru. Orang-orang yang terhubung dengan masa kinimu, bukan hanya dengan masa lalumu. Orang-orang yang menghormati batasmu, merayakan keberhasilanmu, dan tidak perlu memadamkan cahayamu agar mereka merasa lebih baik.

Belajar bersikap toleran memang membantu. Kita semua melakukan yang terbaik dengan alat yang kita punya. Tetapi toleransi tidak berarti membiarkan apa pun. Kamu bisa memahami seseorang sambil tetap memilih melindungi kedamaianmu.

Jika sebuah persahabatan mengurasmu, merendahkanmu, memanipulasimu, atau membuatmu merasa kecil, perhatikanlah. Kesetiaanmu juga harus mencakup dirimu sendiri.

Cara menjalani usia dua puluhan dengan lebih tenang dan sadar



Tidak ada orang yang masuk usia dewasa dengan mengetahui segalanya. Dan sejujurnya, setelah itu pun tidak ada yang tahu segalanya.

Setiap orang belajar dengan ritmenya sendiri. Beberapa pelajaran datang dengan cinta. Yang lain datang dengan kehilangan, kelelahan, kekecewaan, atau perubahan yang tak terduga. Yang penting adalah jangan percaya bahwa kamu tertinggal hanya karena kamu masih terus menemukan siapa dirimu.

Usia dua puluhan bisa terasa membingungkan karena ini adalah fase transisi. Kamu bukan lagi remaja, tetapi mungkin juga belum merasa sepenuhnya dewasa. Kamu menginginkan kebebasan, tetapi juga keamanan. Kamu ingin memilih, tetapi kadang merindukan ada seseorang yang memberi tahu apa yang harus dilakukan. Kamu ingin membangun hidupmu sendiri, tetapi masih membawa ekspektasi orang lain.

Bernapaslah. Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini.

Kamu bisa mulai dengan langkah-langkah sederhana:


  • Rawat hubungan yang nyata. Kamu tidak perlu memiliki ratusan orang di sekelilingmu. Kamu membutuhkan relasi di mana kamu bisa menjadi dirimu sendiri.

  • Bicarakan apa yang menyakitimu. Diam atas semuanya tidak membuatmu lebih kuat. Kadang itu hanya membuatmu lebih sendirian.

  • Tinjau polamu. Tanyakan pada dirimu perilaku apa yang kamu warisi dan mana yang ingin kamu ubah.

  • Berdamailah dengan tubuhmu. Jangan menunggu sampai kamu membenci dirimu baru mulai merawat diri.

  • Jangan menunda hidup. Masa depan itu penting, tetapi hari ini juga berarti.



Jika kamu merasa sedang berada dalam fase memulai ulang, tulisan tentang cara membangun kembali hidupmu setelah krisis yang berat ini bisa menemanimu. Dan jika yang paling kamu butuhkan sekarang adalah mengembalikan semangat, membaca cara mempertahankan harapan di tengah kekacauan juga bisa memberimu arah.

Usia dua puluhan tidak harus sempurna untuk menjadi berharga. Kamu tidak harus memenuhi semua tenggat waktu yang kamu bayangkan. Kamu tidak harus punya karier ideal, pasangan ideal, tubuh ideal, atau hidup ideal sebelum usia tertentu.

Yang bisa kamu lakukan adalah hidup dengan lebih hadir. Mendengarkan apa yang diajarkan pengalaman. Mensyukuri yang baik. Menangisi yang pergi. Melepaskan apa yang sudah tidak menjagamu. Dan membuka ruang untuk apa yang masih belum kamu kenal.

Akan ada kisah-kisah baru. Orang-orang baru. Jalan-jalan baru. Versi-versi baru dari dirimu.

Dan meski kadang tumbuh dewasa terasa menyakitkan, itu juga bisa membuatmu lebih bebas. ✨