Daftar isi
- Bagaimana ketidaktulusan memengaruhi kepercayaan kita
- Mengapa sebagian orang menghindari mengatakan kebenaran
- Cara mendorong percakapan yang lebih tulus
- Apa yang harus dikatakan agar seseorang bersikap terbuka kepadamu
- Cara mengembangkan komunikasi asertif
- Cara mengenali dan menjauh dari orang-orang beracun
- Apa yang harus dilakukan jika pasanganmu tidak tulus kepadamu
- Menerima bahwa kamu tidak dapat mengendalikan kejujuran orang lain
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Betapa sulitnya menjalin hubungan ketika kita merasa tidak ada yang mengatakan seluruh kebenaran kepada kita.
Apakah kamu merasa frustrasi karena tidak pernah benar-benar tahu apakah orang-orang tulus kepadamu?
Keraguan ini bisa muncul dalam banyak situasi. Hal ini terjadi saat menonton berita yang memilih apa yang akan diberitakan dan bagaimana menyampaikannya. Juga di media sosial, ketika terkadang kamu tidak tahu apakah seseorang membagikan pengalaman nyata atau berusaha menjual sesuatu kepadamu melalui pesan yang menyesatkan.
Bahkan hal itu bisa terjadi dalam pertemananmu. Mungkin seseorang yang dekat denganmu berpikir bahwa kamu sedang mengambil keputusan yang buruk, tetapi tidak berani mengatakannya. Bisa jadi ia takut membuatmu tidak nyaman, memicu pertengkaran, atau terlihat tidak baik.
Situasinya terasa lebih menyakitkan ketika ketidaktulusan datang dari anggota keluarga atau pasanganmu. Dalam hubungan-hubungan ini, kita berharap menemukan kepercayaan, rasa aman, dan kebebasan untuk dapat berbicara tanpa topeng.
Semua situasi ini memiliki satu kesamaan: ada atau tidaknya keterbukaan.
Bersikap terbuka berarti mengungkapkan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau diketahui dengan jelas. Ini tidak berarti melontarkan setiap pendapat tanpa mempertimbangkan dampaknya. Ketulusan yang sehat memadukan kebenaran, rasa hormat, dan tanggung jawab.
Seorang dosen psikologi pernah mengatakan sesuatu yang saya catat dan tidak pernah saya lupakan: “Ketidakpastian dan keraguan yang muncul karena tidak mengetahui apakah kita diberi tahu seluruh kebenaran dapat menjadi sumber kecemasan atau frustrasi.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mencerminkan pengalaman yang sangat umum. Ketika kamu merasakan adanya kontradiksi, keheningan yang aneh, atau jawaban yang mengelak, pikiranmu berusaha melengkapi informasi yang hilang. Dan sering kali, pikiran melakukannya dengan membayangkan skenario yang lebih buruk daripada kenyataannya.
Bagaimana ketidaktulusan memengaruhi kepercayaan kita
Saat ini informasi beredar dengan kecepatan luar biasa. Kita dapat berkomunikasi dengan seseorang dalam hitungan detik dan mengakses ratusan pendapat tentang topik apa pun. Namun, kemudahan itu tidak menjamin percakapan yang autentik.
Ketidaktulusan dapat memengaruhi ketenangan emosional kita dan cara kita membangun hubungan. Jika kamu berulang kali dikecewakan, wajar bila kamu mulai mencurigai setiap kata.
Kebenaran bisa terasa tidak nyaman, tetapi juga diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat berdasarkan informasi. Kamu perlu mengetahui apa yang sedang terjadi untuk memutuskan apakah ingin melanjutkan suatu hubungan, mengubah perilaku, menetapkan batasan, atau sekadar menerima bahwa orang lain berpikir berbeda.
Ketika tidak ada keterbukaan, kamu bisa sampai mempertanyakan persepsimu sendiri. Kamu bertanya-tanya apakah kamu berlebihan, salah memahami, atau seharusnya mengabaikan apa yang kamu rasakan. Seiring waktu, kebingungan ini dapat melemahkan harga dirimu dan memupuk ketidakpercayaan.
Ada pula risiko lain: kamu berubah menjadi semacam detektif emosional. Kamu menganalisis pesan, nada suara, jeda, dan gestur. Kamu mencari bukti untuk memastikan bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai. Kewaspadaan terus-menerus ini melelahkan dan tidak selalu membawamu lebih dekat pada kebenaran.
Jika ketidakpastian ini membuatmu kewalahan, mempelajari cara mengenali dan mengatur apa yang kamu rasakan dapat membantu. Kamu bisa memulai dengan 11 strategi untuk mengelola emosimu dengan sukses.
Mengapa sebagian orang menghindari mengatakan kebenaran
Tidak semua ketidakterbukaan berawal dari niat buruk. Sebagian orang berbohong untuk memperoleh keuntungan, tetapi ada pula yang memilih diam karena takut, tidak percaya diri, atau tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi percakapan yang sulit.
Memahami alasannya bukan berarti membenarkan setiap bentuk penipuan. Hal ini berguna agar kamu dapat melihat situasi dengan lebih jelas dan memilih respons yang tepat.
1. Takut pada konflik atau penolakan
Banyak orang menghindari berbicara dengan tulus karena takut memicu pertengkaran, melukai perasaan, atau kehilangan hubungan. Mereka lebih memilih diam, mengganti topik, atau melembutkan pesan sedemikian rupa hingga kebenarannya akhirnya menghilang.
Contohnya, seorang teman bisa mengatakan bahwa “semuanya baik-baik saja” walaupun ia merasa diabaikan. Mungkin ia tidak ingin bertengkar, tetapi ketidaknyamanan yang tidak diungkapkan itu kemudian dapat berubah menjadi jarak atau rasa kesal.
2. Kebutuhan untuk menjaga citra sosial
Kita hidup dalam masyarakat yang menghargai penerimaan. Karena itu, sebagian orang berusaha selalu tampak menyenangkan, sukses, atau penuh pengertian, bahkan ketika perasaannya sangat berbeda.
Mengatakan kebenaran yang tidak nyaman dapat dipandang sebagai risiko bagi citra yang ingin mereka tampilkan. Alih-alih mengakui kesalahan atau menerima bahwa pendapatnya tidak populer, mereka mempertahankan penampilan.
3. Kurangnya keterampilan berkomunikasi
Tidak semua orang belajar cara mengungkapkan ketidaksetujuan dengan hormat. Keterbukaan membutuhkan keberanian, tetapi juga kepekaan, empati, dan kemampuan memilih waktu yang tepat.
Orang yang tidak memiliki bekal tersebut bisa jatuh ke dua sisi ekstrem. Mereka mungkin memendam semuanya untuk menghindari masalah atau mengungkapkan kebenarannya dengan cara yang agresif. Bersikap tulus tidak sama dengan bersikap kejam. Kejujuran yang mempermalukan, mengancam, atau mengejek bukan lagi percakapan yang membangun.
4. Keinginan untuk menghindari konsekuensi
Terkadang seseorang tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan dan takut bertanggung jawab. Ia menyembunyikan informasi agar tidak menerima kritik, kehilangan keuntungan, atau menghadapi keputusan yang sulit. Dalam kasus seperti ini, sebaiknya perhatikan fakta, bukan hanya penjelasannya.
5. Kebingungan terhadap apa yang dirasakan
Ada juga orang yang tidak mampu bersikap jelas karena mereka belum memahami emosi mereka sendiri. Mereka bisa menjawab dengan ambigu, mengubah pendapat, atau membutuhkan waktu. Tidak selalu ini merupakan kebohongan yang disengaja, meskipun ketidakpastian yang ditimbulkannya tetap sama-sama membuat frustrasi.
Cara mendorong percakapan yang lebih tulus
Dalam lingkungan keluarga, sosial, maupun pekerjaanmu, mulailah dengan mempraktikkan ketulusanmu sendiri; itu adalah langkah awal yang sangat baik. Orang biasanya lebih mudah terbuka ketika mereka merasa tidak akan langsung dihakimi.
Beberapa tahun lalu, sebelum saya lulus sebagai psikolog, saya mengalami masalah untuk tidur nyenyak. Kelelahan itu memengaruhi kehidupan sehari-hari saya. Saya menghabiskan sebagian besar hari dengan memikirkan kapan saya bisa berbaring dan memulihkan energi.
Suatu kali saya menceritakannya kepada seorang teman di pusat kebugaran. Ia bukan keluarga atau sahabat dekat. Ia hanya seseorang yang kebetulan berlatih bersama saya. Saya dengan jujur menceritakan betapa buruknya perasaan saya karena tidak bisa beristirahat.
Ia tidak hanya memberi saya beberapa saran. Ia juga membuka diri secara emosional dan menceritakan kesulitannya sendiri dengan tidur. Percakapan itu sederhana, tetapi saya merasa lega saat menyadari bahwa saya tidak perlu menyembunyikan apa yang sedang saya alami.
Malam itu saya tidur seperti yang sudah lama tidak saya alami. Mungkinkah ada hubungan antara berbicara dengan tulus dan merasa lebih tenang?
Seiring waktu, saya memahami bahwa memang mungkin ada hubungannya. Membicarakan masalah memungkinkan kita menatanya, mengakuinya, dan berhenti menanggungnya sendirian. Ini tidak berarti bahwa satu percakapan selalu akan menyelesaikan kesulitan, tetapi mengungkapkan dengan kata-kata apa yang sedang kamu alami dapat membantumu memahaminya dan mencari dukungan.
Jika kamu sedang mengalami hal serupa, kamu dapat membaca pengalaman saya di Bagaimana saya mengatasi masalah tidur dalam 3 bulan.
Pengalaman ini juga mengajarkan saya bahwa keterbukaan dapat muncul di tempat yang tidak terduga. Terkadang seseorang yang bukan bagian dari lingkaran terdekatmu mendengarkan dengan lebih sedikit prasangka dan tidak mengharapkan apa pun darimu.
Menciptakan lingkungan yang menyambut kejujuran memudahkan keterbukaan. Kamu dapat memulainya di ruang-ruang kecil: percakapan dengan pasangan, pertemuan keluarga, berkumpul dengan teman, atau tim kerja.
Jika kamu merasa sulit meminta ditemani atau menunjukkan kerentananmu, artikel ini dapat membimbingmu: 5 cara mencari dukungan dari teman dan keluarga jika kamu belum berani.
Apa yang harus dikatakan agar seseorang bersikap terbuka kepadamu
Meminta ketulusan tidak menjamin kamu akan menerimanya, tetapi cara memulai percakapan dapat membuat perbedaan. Alih-alih menuduh, cobalah menjelaskan apa yang kamu amati dan apa yang kamu butuhkan.
Kamu dapat menggunakan kalimat seperti berikut:
- “Saya lebih memilih mengetahui pendapatmu yang sebenarnya, meskipun berbeda dengan pendapat saya.”
- “Saya merasa ada sesuatu yang tidak kita bicarakan. Bisakah kita membicarakannya dengan tenang?”
- “Saya tidak perlu kamu membenarkan saya. Saya perlu memahami bagaimana kamu melihatnya.”
- “Jika ada sesuatu yang saya lakukan membuatmu terganggu, saya ingin mendengarnya tanpa menyela.”
Setelah itu, kamu perlu membuktikan undangan tersebut melalui tindakanmu. Jika kamu meminta pendapat jujur lalu bereaksi dengan menyerang, mengejek, atau menghukum ketidaksetujuan, orang lain kemungkinan akan menutup diri.
Mendengarkan tidak berarti menerima semuanya atau melepaskan batasanmu. Artinya, membiarkan orang tersebut menyelesaikan ungkapannya sebelum kamu merespons. Setelah itu, kamu dapat menjelaskan, tidak setuju, atau mengambil jarak jika apa yang kamu dengar mengungkapkan perilaku yang tidak ingin kamu toleransi.
Cara mengembangkan komunikasi asertif
Mempelajari teknik komunikasi asertif dapat membantumu mengungkapkan kebenaran tanpa menimbulkan luka yang tidak perlu. Ini mencakup kemampuan memberikan kritik yang membangun, mendengarkan secara aktif, dan mengatur emosi selama percakapan yang sulit.
Sebelum berbicara, tanyakan kepada dirimu apa yang ingin kamu capai. Apakah kamu ingin menyelesaikan masalah, memahami orang lain, atau sekadar melampiaskan kemarahanmu? Memperjelas tujuan mencegah percakapan berubah menjadi tumpukan saling menyalahkan.
Sebaiknya bicarakan juga fakta yang konkret. “Kamu terlambat tiga kali minggu ini dan saya khawatir” memberikan lebih banyak kejelasan daripada “kamu tidak pernah peduli pada apa pun”. Generalisasi biasanya membuat orang lain bersikap defensif.
Menjadi teladan keterbukaan melalui perilakumu sendiri adalah salah satu cara paling efektif untuk mendorongnya. Mengakui kesalahanmu, menerima keterbatasanmu, dan mengoreksi informasi yang keliru menunjukkan bahwa kebenaran tidak harus menjadi ancaman.
Keterampilan ini juga memperkuat pertemanan. Jika kamu ingin mendalaminya, kamu dapat menyimpan Tujuh langkah untuk mendapatkan teman baru dan memperkuat persahabatan lama.
Cara mengenali dan menjauh dari orang-orang beracun
Media sosial dengan mudah memperlihatkan sisi bermusuhan dari hubungan antarmanusia. Komentar jahat, anonimitas, dan manipulasi merupakan bagian dari banyak ruang digital.
Namun, orang yang merugikan tidak selalu tampil dengan cara yang jelas. Ia bisa menjadi anggota keluarga, pasangan, teman, atau rekan kerja. Terkadang perilakunya halus dan kamu hanya menyadari ada sesuatu yang terjadi karena setelah berbicara dengannya, kamu merasa bersalah, bingung, atau terus-menerus diuji.
Amati apakah ada polanya. Apakah ia mengubah fakta agar selalu tampak sebagai korban? Apakah ia menyangkal percakapan yang kamu ingat dengan jelas? Apakah ia menggunakan informasi pribadi untuk mempermalukanmu? Apakah ia meminta kejujuran, tetapi menghukummu ketika kamu mengatakan sesuatu yang tidak ingin ia dengar?
Kamu tidak harus mempertahankan percakapan tanpa batas dengan seseorang yang menggunakan apa yang disebut ketulusan untuk menyakitimu atau memanipulasimu. Kamu dapat menetapkan batasan, mengurangi kontak, atau mencari dukungan sebelum mengambil keputusan.
Jika kamu merasa dikelilingi oleh orang-orang yang menguras energimu, lihat Haruskah saya menjauh dari seseorang?: 6 langkah untuk menjauh dari orang-orang beracun.
Apa yang harus dilakukan jika pasanganmu tidak tulus kepadamu
Ketika keraguan berpusat pada pasanganmu, kegelisahan biasanya terasa lebih kuat. Kamu mungkin bertanya-tanya apakah ia mengatakan seluruh kebenaran, menyembunyikan sesuatu yang penting, atau apakah perkataannya selaras dengan tindakannya.
Pasanganmu seharusnya menjadi salah satu orang yang membuatmu paling mampu merasakan keamanan emosional. Sebuah hubungan tidak dapat bertahan secara sehat jika kamu hidup dengan memeriksa pesan, menafsirkan keheningan, atau menunggu menemukan kontradiksi baru.
Carilah waktu yang tenang dan berbicaralah berdasarkan pengalamanmu. Jelaskan perilaku apa yang memunculkan keraguanmu dan hindari menyampaikan kecurigaan seolah-olah itu sudah terbukti. Tanyakan secara langsung dan perhatikan baik jawabannya maupun kesediaannya untuk berbicara.
Satu reaksi defensif yang terisolasi tidak selalu membuktikan adanya kebohongan. Sebaliknya, kontradiksi yang sering terjadi, penyembunyian yang disengaja, menyalahkanmu, dan penolakan terus-menerus untuk berdialog memang patut diperhatikan.
Mencari dialog yang transparan adalah jalan yang menantang, tetapi diperlukan dalam setiap hubungan yang sehat. Untuk meninjau aspek penting lainnya, kamu dapat membaca Temukan 8 kunci untuk memiliki hubungan cinta yang sehat.
Menerima bahwa kamu tidak dapat mengendalikan kejujuran orang lain
Membangun hubungan yang mengutamakan kebenaran membutuhkan usaha sadar dari semua orang yang terlibat. Tidak cukup hanya menuntut ketulusan: kita juga harus belajar menerimanya, menyampaikannya dengan hati-hati, dan memperbaiki kerusakan ketika kita melakukan kesalahan.
Frustrasi karena merasa bahwa tidak ada yang berbicara kepada kita dengan terbuka bukan hanya masalah antarpribadi. Ini juga merupakan tantangan bersama yang berkaitan dengan rasa takut, penampilan, dan kesulitan untuk menerima pendapat yang berbeda.
Keautentikan dan kejelasan memperkaya hubungan kita. Keduanya menciptakan konteks yang membuat kita dapat merasa dipahami, didukung, dan dihargai. Namun, itu tidak berarti kamu akan membuat semua orang bersikap transparan kepadamu.
Kenyataannya, sebagian orang berbohong. Sebagian lainnya tulus pada waktu tertentu dan mengelak pada waktu lain. Ada juga orang yang percaya bahwa mereka mengatakan kebenaran, meskipun persepsinya hanya sebagian atau dipengaruhi oleh emosinya.
Tugasmu bukan mengendalikan setiap perkataan orang lain, melainkan memutuskan kepada siapa kamu akan percaya, batasan apa yang perlu kamu tetapkan, dan bagaimana merespons fakta. Perhatikan konsistensi dari waktu ke waktu. Jangan menilai seluruh hubungan berdasarkan satu kesalahan, tetapi jangan pula mengabaikan pola yang menyakitimu.
Menerima bahwa kamu tidak dapat mengendalikan kejujuran orang lain tidak sama dengan menyerah. Artinya berhenti mengejar kepastian yang mustahil dan berfokus pada apa yang memang bergantung padamu: berbicara dengan jelas, mendengarkan dengan penuh perhatian, meminta penjelasan, dan menjauh ketika kepercayaan berulang kali dilanggar.
Dan ketika ketidakpastian terlalu banyak merenggut ketenanganmu, ingatlah untuk kembali ke pusat dirimu. Bacaan ini dapat menemanimu: Apakah kamu sedang berjuang menemukan kebahagiaan batin? Bacalah ini.