Daftar isi
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Tetapi jujur saja: bahkan sebelum krisis apa pun, hidup juga tidak pernah semudah itu.
Sering kali, ketika kita punya lebih banyak waktu untuk berpikir, kita mulai menuntut terlalu banyak dari diri sendiri. Kita ingin menjadi lebih baik, lebih kuat, lebih produktif, lebih sehat, lebih bahagia. Seolah-olah versi ideal diri kita hanya berjarak satu keputusan radikal.
Dan tidak selalu begitu.
Terkadang kita percaya bahwa kita membutuhkan perubahan besar agar merasa sedang melangkah maju, tetapi gagasan itu bisa berubah menjadi perangkap.
Saya juga pernah terjebak di situ. Saya pernah ingin mengubah semuanya sekaligus: kebiasaan saya, tubuh saya, suasana hati saya, rutinitas saya, cara berpikir saya. Dan ketika saya tidak berhasil melakukan perubahan drastis yang saya bayangkan, rasa frustrasi pun muncul.
Lalu mulailah siklus itu: saya menuntut diri sendiri, gagal, kecewa pada diri sendiri, dan kembali merasa bahwa saya belum berbuat cukup.
Mengapa perubahan besar tidak selalu membuatmu merasa lebih baik
Saya telah membaca buku-buku tentang pengembangan diri, cinta diri, dan kepercayaan diri. Saya berolahraga, berlari, makan lebih sehat, dan mencoba bermeditasi. Semua itu tentu bisa membantu. Itu alat yang berharga.
Tetapi melakukan “semuanya dengan benar” tidak selalu langsung membuatmu merasa baik, dan itu juga tidak apa-apa.
Kadang-kadang kita melihat orang lain, terutama mereka yang kita kagumi, dan berpikir: “Kalau saya melakukan apa yang mereka lakukan, maka saya akan merasa lebih baik”.
Kita percaya bahwa jika kita menyelesaikan daftar tugas setiap hari, jika kita minum air, berolahraga, membersihkan rumah, membalas pesan, dan mempertahankan sikap positif, maka kita seharusnya merasa puas dengan hidup kita.
Bagi sebagian orang, itu berhasil. Dan tidak ada yang salah dengan itu.
Tetapi bagi yang lain, daftar itu menjadi bentuk tekanan baru. Cara lain untuk merasa bahwa mereka tak pernah cukup. Jika itu terjadi padamu, itu bukan berarti kamu lemah. Itu berarti kamu membutuhkan ritme yang lebih lembut terhadap dirimu sendiri.
Jika kamu sedang berusaha membangun pandangan yang lebih positif tanpa memaksakan diri, kamu juga bisa terbantu dengan membaca cara belajar menjadi optimis dan hidup lebih baik.
Langkah-langkah kecil setiap hari untuk melampaui diri tanpa tekanan
Maju tidak selalu terlihat seperti transformasi besar. Kadang-kadang, maju jauh lebih sederhana dan lebih sunyi.
Alih-alih berfokus mengubah seluruh hidupmu sekaligus, cobalah melihat langkah berikutnya. Hanya satu.
Mungkin hari ini pencapaian terbesarmu adalah bangun dari tempat tidur. Mungkin itu mandi. Pergi membeli sesuatu yang kamu butuhkan. Menyiapkan makanan segar. Merapikan sedikit bagian kamar. Mengirim pesan yang selama ini kamu tunda.
Tindakan kecil juga dihitung. Dan itu sangat berarti.
Kamu tidak harus menyelesaikan seluruh hidupmu pada hari Senin ini. Kamu tidak harus bangun dengan motivasi yang sempurna. Kamu tidak harus menjadi orang lain untuk layak mendapatkan ketenangan.
Kamu bisa memulai dengan sesuatu yang kecil, tetapi nyata.
Misalnya:
- Berjalan kaki sepuluh menit tanpa melihat ponsel.
- Minum air sebelum kopi.
- Merapikan tempat tidur meski hari terasa berat.
- Bernapas dalam-dalam sebelum membalas dengan marah.
- Mengatakan “hari ini saya tidak bisa” saat kamu perlu beristirahat.
Dan berbicara tentang batasan, jika kamu sulit menetapkannya tanpa merasa bersalah, artikel tentang belajar perlahan untuk mengatakan tidak ini mungkin bisa mendampingimu.
Bagaimana berhenti membandingkan diri dan maju dengan ritmemu sendiri
Salah satu hal terpenting adalah berhenti mengukur jalanmu dengan aturan orang lain.
Setiap orang punya kisahnya sendiri, lukanya sendiri, waktunya sendiri, sumber dayanya sendiri, dan pertempuran tak terlihatnya sendiri. Apa yang bagi seseorang tampak mudah, bagimu bisa membutuhkan energi yang sangat besar. Dan itu tidak menghapus usahamu.
Saingan terbesarmu seharusnya bukan orang lain. Bukan orang yang paling pagi bangun. Bukan orang yang paling banyak berlatih. Bukan orang yang tampaknya memiliki hidup yang tertata sempurna.
Titik perbandinganmu yang sebenarnya adalah dirimu sendiri: seperti apa dirimu kemarin, apa yang kamu pelajari, apa yang kamu coba, apa yang mampu kamu pertahankan.
Ada hari-hari ketika kamu akan maju banyak. Ada hari-hari lain ketika kamu hanya akan bertahan. Dan ada juga hari-hari ketika kamu perlu berhenti. Semua itu adalah bagian dari perjalanan.
Pengembangan diri tidak seharusnya terasa seperti utang kepada dirimu sendiri. Seharusnya, sedikit demi sedikit, terasa seperti cara untuk merawat dirimu dengan lebih baik 🌱.
Perkembanganmu juga berarti di hari-hari sulit
Ketika kamu mulai menghargai hal-hal kecil, pandanganmu bisa berubah. Bukan secara ajaib, tetapi secara mendalam.
Mungkin kamu mulai merasa lebih bangga pada apa yang kamu lakukan. Mungkin kamu berhenti terlalu keras menghukum diri sendiri atas hal-hal yang tidak berjalan baik. Mungkin kamu memahami bahwa kamu tidak memerlukan hidup yang sempurna untuk merasa bersyukur atas sesuatu yang kecil.
Jika suatu hari kamu hanya bisa menyelesaikan satu tugas, jangan sebut itu kegagalan. Sebut itu kehadiran. Sebut itu upaya. Sebut itu tanda bahwa kamu masih di sini.
Dan jika rasa putus asa sering datang menyapamu, kamu tidak harus menghadapinya sendirian. Kamu bisa menemukan ide-ide praktis di strategi-strategi ini untuk bangkit secara emosional.
Mulailah dengan mengambil langkah pertama, meski tampak kecil. Lalu satu lagi. Dan setelah itu, satu lagi.
Hidup bukanlah lomba kecepatan. Hidup adalah sebuah perjalanan dengan jeda, tikungan, tersandung, dan kemenangan-kemenangan kecil yang, seiring waktu, akhirnya membangun sesuatu yang lebih besar.
Hari ini kamu tidak perlu melakukan semuanya. Kamu hanya perlu memulai dari sesuatu yang bisa kamu pertahankan.