Daftar isi
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Ada sebuah kebenaran yang terkadang terasa tidak nyaman: mengatakan kepada seseorang “tetaplah positif” tidak menyelesaikan semuanya begitu saja dengan sihir.
Mengingatkan seseorang untuk melihat sisi baiknya tidak serta-merta menyembuhkan trauma, kehilangan, kekecewaan, atau kecemasan yang mendalam.
Dan menyuruhnya untuk “melupakan saja” tidak menjamin ia bisa melakukannya saat itu juga, meski memiliki seluruh kemauan di dunia.
Menjadi optimis itu indah dan bisa membantumu menjalani hidup dengan lebih tenang, penuh harapan, dan bahagia. Namun, optimisme tidak seharusnya berubah menjadi topeng yang memaksamu tersenyum ketika di dalam kamu sudah kelelahan.
Hidup juga membawa frustrasi, ketakutan, ketidakpastian, dan kelelahan emosional. Dan menyangkal semua itu tidak membuatmu lebih kuat. Kadang, itu justru menjauhkanmu dari apa yang sebenarnya perlu kamu rasakan.
Mengapa bersikap positif tidak selalu cukup
Untuk waktu yang lama, aku percaya bahwa hal-hal buruk datang beruntun tiga-tiga, seolah hidup mengikuti pola yang rapi dan bisa diprediksi.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu.
Kesulitan bisa datang berpasangan, bertumpuk sepuluh kali, atau muncul tepat setelah berbulan-bulan ketika kamu merasa sudah tidak sanggup lagi.
Mungkin kamu menahan reaksi agar tidak meledak marah. Mungkin kamu menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. Mungkin kamu berusaha melihat sisi baik di tengah kekacauan. Semua itu membantu.
Tapi kamu tidak bisa sepenuhnya menekan apa yang kamu rasakan.
Emosi yang sulit juga merupakan bagian dari kemanusiaanmu. Kesedihan, kemarahan, frustrasi, atau ketakutan bukanlah cacat karakter. Itu adalah sinyal batin. Mereka menunjukkan bahwa ada sesuatu yang penting bagimu, ada sesuatu yang menyakitimu, atau ada sesuatu yang membutuhkan perhatianmu.
Jika kamu sedang berada dalam fase yang terasa sulit untuk melangkah maju, kamu juga bisa membaca tentang bagaimana mengatasi diri dengan langkah-langkah kecil tanpa menuntut terlalu banyak. Kadang, proses penyembuhan tidak dimulai dengan keputusan besar, melainkan dengan gerakan kecil yang konsisten.
Izinkan dirimu merasakan tanpa rasa bersalah atau malu
Hidupmu akan mengalami naik turun. Tidak ada jalan yang tetap stabil sempurna untuk waktu yang lama.
Karena itu, kamu perlu memberi diri izin untuk merasakan apa pun yang muncul ketika sesuatu menyentuh batinmu.
Merasa bukan berarti kamu terjebak dalam rasa sakit. Merasa berarti mengakuinya agar perlahan-lahan bisa kamu lepaskan.
Seperti awan yang penuh air, kamu pantas mengeluarkan apa yang kamu simpan di dalam. Seperti ombak yang menguat di lautan, mengekspresikan emosi juga bisa membantumu mendapatkan kembali doronganmu. 🌊
Kamu tidak seharusnya merasa malu karena bereaksi atau memiliki emosi yang intens.
Kamu tidak seharusnya merasa ada tenggat waktu yang pasti untuk berhenti sedih, kesal, atau bingung.
Kamu tidak seharusnya menekan kesedihanmu hanya karena seseorang berkata: “kamu harus positif”.
Ada hari-hari ketika bangun dari tempat tidur, mandi, membalas pesan, atau menyiapkan sesuatu yang sederhana untuk dimakan sudah merupakan tindakan keberanian. Jangan meremehkan itu.
Perbedaan antara optimisme yang sehat dan positivitas beracun
Optimisme yang sehat menemanimu. Ia berkata: “ini memang menyakitkan, tapi tidak akan selamanya.”
Positivitas beracun menekanimu. Ia berkata: “kamu tidak seharusnya merasa seperti ini.”
Dan di situlah perbedaannya.
Kamu tidak perlu memilih antara menjadi positif atau jujur pada dirimu sendiri. Kamu bisa punya harapan dan, pada saat yang sama, mengakui bahwa hari ini kamu merasa kalah.
Kamu bisa bersyukur atas apa yang kamu miliki dan tetap menangis atas apa yang kamu kehilangan.
Kamu bisa percaya bahwa kamu akan merasa lebih baik dan tetap membutuhkan istirahat, keheningan, atau dukungan.
Jika kamu merasa kesedihan bercampur dengan kesepian, artikel tentang cara menemukan dukungan saat kamu merasa sendiri ini bisa membantumu dengan lebih tenang.
Cara memulihkan keseimbangan emosional sedikit demi sedikit
Seiring waktu, kamu akan belajar menemukan keseimbangan yang lebih sehat.
Keseimbangan itu bukan berarti bahagia sepanjang waktu. Itu berarti mampu jatuh, merasakan, meminta bantuan, beristirahat, dan bangkit kembali saat kamu siap.
Kamu bisa memulainya dengan sesuatu yang sederhana:
- Tuliskan apa yang kamu rasakan tanpa berusaha memperbaikinya.
- Bicaralah dengan seseorang yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi.
- Tarik napas dalam sebelum menuntut jawaban dari dirimu sendiri.
- Istirahat sejenak dari media sosial jika kamu terlalu sering membandingkan diri.
- Ingatkan dirimu: “apa yang saya rasakan ini valid”.
Kamu juga bisa mencari sumber ketenangan kecil: berjalan kaki, mandi air hangat, sebuah lagu, lilin yang dinyalakan, secangkir teh, memandang langit selama beberapa menit. Jangan meremehkan ritual sederhana. Kadang, ritual itu merapikan jiwa.
Untuk memperdalam gagasan ini, kamu bisa membaca mengapa berdamai dengan kesedihan juga merupakan bagian dari kebahagiaan.
Menjadi rentan juga merupakan bentuk kekuatan
Menjadi positif punya tempatnya sendiri. Itu bisa memberimu cahaya, perspektif, dan energi.
Namun, yang juga penting adalah menjadi autentik, manusiawi, dan rentan.
Kamu tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja agar layak dicintai. Kamu tidak perlu menunjukkan kekuatan setiap menit. Kamu tidak perlu mengubah setiap rasa sakit menjadi pelajaran secara instan.
Kadang, yang paling sehat adalah berkata: “hari ini aku tidak sanggup menanggung semuanya.”
Dan itu tidak membuatmu lemah.
Itu membuatmu nyata.
Jadi, jika hari ini kamu merasa kalah, bernapaslah. Jangan melawan dirimu sendiri. Jangan memaksakan diri tersenyum sebelum waktunya.
Rasakan apa pun yang perlu kamu rasakan.
Rasa sakitmu tidak bertentangan dengan harapanmu. Kesedihanmu tidak menghapus cahayamu. Kamu hanyalah manusia.