Daftar isi
- Apa itu autosabotase dan bagaimana ia muncul dalam hidupmu
- Takut gagal: saat pikiranmu mengharapkan yang terburuk
- Takut sukses: mengapa kamu bisa takut meraih apa yang kamu inginkan
- Terputus dari diri autentikmu: saat kamu mengejar tujuan yang bukan milikmu
- Kurangnya kejernihan pada nilai-nilai pribadimu
- Cara berhenti mensabotase diri dan memulihkan kepercayaan pada dirimu
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Apakah kamu pernah berada dalam situasi aneh ketika suara batin berteriak keras: «Aku tidak bisa melakukannya», padahal bagian lain dari dirimu berkata: «Ya, aku mau, ya aku bisa, ya aku ingin maju»?
Mungkin kamu sudah menetapkan sebuah tujuan penting. Sesuatu yang benar-benar membuatmu bersemangat. Kamu memulai dengan antusias, membuat daftar, mencari informasi, membayangkan seperti apa saat berhasil meraihnya, dan merasakan percikan motivasi yang begitu indah.
Namun, tiba-tiba, sesuatu muncul dan menarik remnya.
Keraguan. Menunda-nunda. Kritik terhadap diri sendiri. Perfeksionisme. Rasa lelah yang datang mendadak. Membandingkan diri dengan orang lain. Atau kalimat tidak nyaman yang muncul tepat saat kamu hendak melangkah besar: «Bagaimana kalau aku tidak mampu?»
Di sinilah biasanya autosabotase masuk ke panggung. Dan itu tidak selalu tampak seperti krisis besar. Kadang ia menyamar sebagai kehati-hatian, alasan yang masuk akal, kebutuhan untuk mengendalikan semuanya, atau menunggu «waktu yang sempurna».
Apakah kamu ditakdirkan untuk gagal? Apakah kamu berada di jalan yang salah? Apakah kamu harus menyerah dan memulai dari nol dengan sesuatu yang sama sekali berbeda?
Tidak selalu.
Mungkin kamu hanya perlu mengenal sabotase internalmu dengan lebih baik. Bagian dari dirimu yang mencoba melindungimu, meski caranya canggung, membatasi, dan menyakitkan. Itu bukan musuh mutlakmu. Sering kali ia lahir dari pengalaman masa lalu, ketakutan yang dipelajari, atau keyakinan yang kamu ulang selama bertahun-tahun tanpa pernah mempertanyakannya.
Ada banyak alasan mengapa, tanpa sadar, kita mensabotase hal-hal yang paling penting bagi kita. Dalam suatu titik di perjalanan mengenal diri, kita perlu melihat dengan jujur apa yang sebelumnya tidak mampu kita lihat.
Karena kamu tidak bisa mengatasi hambatan jika kamu bahkan tidak tahu di mana letaknya. 🌙
Di sini aku membagikan beberapa bentuk autosabotase yang umum dan bagaimana kamu bisa mulai memulihkan kepercayaan pada dirimu.
Apa itu autosabotase dan bagaimana ia muncul dalam hidupmu
Autosabotase terjadi ketika satu bagian dari dirimu ingin maju, tetapi bagian lain bertindak melawan keinginan itu. Ini bisa terjadi di pekerjaan, cinta, studi, kebiasaan, kesehatan emosional, atau proyek pribadi apa pun.
Misalnya, kamu ingin memulai usaha, tetapi tidak pernah benar-benar meluncurkan ide itu. Kamu ingin memiliki hubungan yang sehat, tetapi memilih orang yang secara emosional tidak tersedia. Kamu ingin merawat tubuhmu, tetapi meninggalkan setiap rutinitas tepat saat kamu mulai melihat perubahan. Kamu ingin mempelajari sesuatu yang baru, tetapi meyakinkan diri sendiri bahwa sudah terlambat.
Autosabotase tidak selalu berkata: «Aku akan merusak semuanya». Sering kali ia mengatakan hal-hal yang lebih halus:
- «Lebih baik kulakukan besok».
- «Aku belum siap».
- «Pasti ada yang lebih baik dariku».
- «Kalau aku tidak bisa melakukannya dengan sempurna, lebih baik jangan kulakukan».
- «Aku tidak mau berharap lalu kecewa nanti».
Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar tidak berbahaya, tetapi jika kamu mengulangnya terlalu lama, semuanya akan membangun sebuah kurungan.
Langkah pertama untuk keluar dari autosabotase bukanlah menuntut lebih banyak dari dirimu, melainkan mengamati dirimu dengan lebih baik. Dengan lebih sedikit menghakimi dan lebih banyak kejujuran.
Takut gagal: saat pikiranmu mengharapkan yang terburuk
Sejak kecil kita menyerap banyak gagasan tentang keberhasilan, kesalahan, dan kegagalan. Sebagiannya datang dari keluarga. Sebagian lain dari sekolah. Sebagian lagi dari pengalaman ketika kita merasa dihakimi, dipermalukan, atau kurang didukung.
Mungkin seseorang pernah mengatakan bahwa kamu tidak cukup baik. Atau tidak pintar. Atau tidak cocok untuk sesuatu. Mungkin mereka tidak mengatakannya secara langsung, tetapi kamu merasakannya lewat perbandingan, diam, kritik, atau tuntutan yang mustahil.
Lama-kelamaan, kalimat-kalimat itu bisa menetap di dunia batinmu dan berubah menjadi keyakinan seperti:
- «Aku tidak cukup baik».
- «Nilai diriku tidak sebesar orang lain».
- «Aku tidak cukup pintar».
- «Aku tidak pantas berhasil».
- «Aku selalu gagal, jadi itu akan terjadi lagi».
Yang rumit adalah keyakinan-keyakinan ini biasanya tidak terasa seperti pikiran yang dipelajari. Mereka terasa seperti kebenaran. Dan ketika sebuah keyakinan menjadi «kebenaran» bagi pikiranmu, kamu mulai bertindak sesuai dengannya.
Itulah sebabnya seseorang bisa sangat ingin maju, tetapi pada saat yang sama menghindari kesempatan, meninggalkan proyek, atau tidak benar-benar menampakkan dirinya. Bukan karena ia tidak punya kemampuan, melainkan karena sistem emosinya mengaitkan usaha dengan rasa sakit karena gagal.
Takut gagal membuatmu percaya bahwa tidak mencoba lebih tidak menyakitkan daripada mencoba dan gagal. Padahal tidak mencoba juga menyakitkan. Hanya saja, rasa sakitnya datang lebih lambat.
Salah satu cara praktis untuk mulai mengubah ini adalah dengan bertanya pada diri sendiri: «Apa yang kuanggap pasti tanpa memeriksanya?»
Mungkin kamu tidak tidak mampu. Mungkin kamu hanya takut. Mungkin kamu tidak perlu menyerah, melainkan belajar melangkah dengan rasa takut, sedikit demi sedikit, tanpa menuntut hasil sempurna sejak percobaan pertama.
Takut sukses: mengapa kamu bisa takut meraih apa yang kamu inginkan
Takut sukses mungkin terdengar aneh. Bahkan konyol. Bagaimanapun, jika kamu menginginkan sesuatu, mengapa kamu takut mendapatkannya?
Tetapi itu terjadi lebih sering daripada yang kamu bayangkan.
Kadang, keberhasilan berarti perubahan. Dan tidak semua perubahan terasa aman bagi pikiranmu, meskipun itu positif. Mencapai sesuatu bisa membawa lebih banyak sorotan, lebih banyak tanggung jawab, ekspektasi baru, keputusan sulit, atau bahkan kritik dari orang lain.
Misalnya, seseorang yang kreatif mungkin punya ide-ide indah, tetapi tidak pernah menunjukkannya. Bukan karena ia kurang bakat, melainkan karena sebagian dirinya takut pada apa yang akan terjadi jika ide-ide itu benar-benar berhasil.
Bagaimana kalau mereka melihatku?
Bagaimana kalau mereka mengharapkan lebih dariku?
Bagaimana kalau aku berubah dan orang-orang yang kucintai tidak memahaminya?
Bagaimana kalau aku menghasilkan lebih banyak uang dan itu mengubah hubungan-hubunganku?
Hal serupa terjadi pada beberapa orang yang memenangkan lotre dan, setelah beberapa waktu, kembali ke titik awal yang sama. Kesuksesan itu begitu tiba-tiba, begitu kacau, dan begitu sulit diintegrasikan secara emosional, sehingga mereka tidak mampu mempertahankannya.
Ini tidak berarti kesuksesan itu berbahaya. Ini berarti kamu perlu mempersiapkan diri secara batin untuk menghuni versi hidupmu yang lebih besar.
Jika kamu menyadari bahwa kamu mengerem justru saat sesuatu mulai berjalan baik, tanyakan dengan jujur pada dirimu: «Apa yang kutakutkan akan hilang jika ini berhasil?»
Mungkin kamu takut kehilangan rasa memiliki, ketenangan, identitas, penerimaan, atau kendali. Menamainya membantumu mendapatkan kembali kuasa. Apa yang tidak diberi nama, sering kali mengendalikanmu dari bayang-bayang.
Terputus dari diri autentikmu: saat kamu mengejar tujuan yang bukan milikmu
Bentuk autosabotase yang sangat dalam lainnya muncul ketika kamu tidak hidup sesuai dengan nilai-nilai aslimu.
Kadang kita merasa menginginkan sesuatu, padahal sebenarnya kita sedang mencoba memenuhi harapan orang lain. Kita memilih karier untuk menyenangkan orang. Kita mempertahankan hubungan agar tidak mengecewakan. Kita mengejar gaya hidup tertentu karena kita «seharusnya» menginginkannya. Kita berjuang untuk tujuan yang tampak baik dari luar, tetapi terasa kosong di dalam.
Ketika kamu terlalu jauh menjauh dari diri autentikmu, tubuh dan emosi biasanya mulai berbicara. Bisa muncul kelelahan, mudah tersinggung, cemas, apatis, perasaan tersesat, atau kesedihan yang sulit dijelaskan.
Hidup terpisah dari siapa dirimu yang sebenarnya dapat menimbulkan konsekuensi fisik, mental, dan emosional yang penting.
Bukan karena kamu melakukan semuanya salah, melainkan karena kamu berjalan ke arah yang tidak selaras dengan kebenaran batinmu.
Menemukan diri autentikmu bisa terdengar seperti pencarian besar, nyaris seperti mengejar tempat mitis yang mustahil. Tetapi itu tidak harus serumit itu. Kamu bisa memulainya dengan pertanyaan sederhana:
- Apa yang memberi energiku dan apa yang justru mengurasnya?
- Keputusan apa yang kuambil karena keinginan, dan keputusan apa karena rasa takut?
- Bagian mana dari diriku yang kusembunyikan agar bisa diterima?
- Apa yang akan kulakukan berbeda jika aku tidak perlu membuktikan apa pun?
- Seperti apa hidup yang terasa jujur bagiku?
Kamu tidak perlu menjawab semuanya dalam satu hari. Mengenal diri bukanlah perlombaan. Itu adalah percakapan yang terus-menerus dengan dirimu sendiri.
Kurangnya kejernihan pada nilai-nilai pribadimu
Nilai-nilaimu seperti kompas. Mereka membantumu tahu siapa dirimu, apa yang kamu pilih, apa yang tidak kamu tawar, dan ke mana kamu ingin mengarahkan energimu.
Ketika kamu tidak jelas tentang nilai-nilaimu, suara dari luar mudah mengambil alih. Pendapat keluargamu, harapan sosial, perbandingan di media sosial, tekanan ekonomi, atau rasa takut mengecewakan bisa memutuskan untukmu.
Sebaliknya, ketika kamu tahu apa yang penting bagimu, kamu bisa menetapkan batas dengan lebih tenang. Kamu juga bisa lebih mudah membedakan antara suara penghakim internalmu dan suara kebijaksanaan batinmu.
Penilaian dari luar kehilangan kekuatannya ketika kamu jelas tentang apa yang kamu yakini dan apa yang ingin kamu bangun.
Nilai-nilaimu juga membantumu mengambil keputusan. Jika bagimu kebebasan adalah nilai utama, mungkin kamu tidak akan mampu bertahan lama dalam hidup yang terlalu kaku. Jika kamu menghargai stabilitas, mungkin kamu perlu melangkah dengan rencana bertahap dan bukan dengan lompatan impulsif. Jika kamu menghargai kreativitas, kemungkinan besar kamu membutuhkan ruang untuk mengekspresikan diri, bukan hanya menjalankan tugas.
Tidak ada nilai yang «lebih baik» atau «lebih buruk». Yang penting adalah bahwa itu milikmu.
Sebuah latihan yang berguna adalah memilih lima kata yang mewakili apa yang ingin kamu jaga di fase hidupmu saat ini. Misalnya: damai, pertumbuhan, cinta, kesehatan, kebebasan, kejujuran, keamanan, kreativitas, keluarga, kemandirian, pembelajaran.
Lalu tanyakan pada dirimu: «Apakah keputusan-keputusanku saat ini menghormati nilai-nilai ini, atau justru mengkhianatinya demi menyenangkan, menghindar, atau menyesuaikan diri?»
Pertanyaan itu mungkin terasa mengganggu, tetapi juga bisa mengembalikan arahmu.
Cara berhenti mensabotase diri dan memulihkan kepercayaan pada dirimu
Bukan tentang membungkam dirimu dengan paksa atau hidup dengan mengulang kalimat-kalimat positif yang sebenarnya tidak kamu rasakan. Ini tentang belajar mendengarkan dirimu dengan lebih dalam.
Sabotase internalmu biasanya muncul untuk melindungimu dari rasa sakit, penolakan, kegagalan, atau ketidakpastian. Masalahnya, demi melindungimu, ia juga bisa menjauhkanmu dari pertumbuhanmu.
Solusinya bukan berperang dengan diri sendiri. Solusinya adalah mulai mengenali polanya.
Kamu bisa mempraktikkannya seperti ini:
- Amati kapan rem itu muncul. Apakah tepat sebelum mengirim proposal? Saat seseorang mendekat secara emosional? Saat kamu mulai menonjol?
- Kenali kalimat batinnya. Apa yang kamu katakan pada dirimu saat itu? Tulis tanpa sensor.
- Cari ketakutan yang ada di bawahnya. Mungkin itu bukan malas. Mungkin itu takut tidak mampu memenuhi harapan.
- Ambil satu langkah kecil. Kamu tidak perlu menyelesaikan seluruh hidupmu hari ini. Cukup lakukan satu tindakan konkret yang memutus siklus itu.
- Bicaralah pada dirimu seperti kamu berbicara pada seseorang yang kamu cintai. Kekerasan tidak selalu membuatmu maju. Kadang justru membuatmu semakin lumpuh.
Juga membantu untuk meninjau pikiran dan emosi yang tersangkut. Kadang kita terus bertindak dari luka lama, meski hidup kita saat ini sebenarnya sudah berbeda.
Solusinya? Mengenal dirimu dengan lebih dalam.
Cari sabotase-sabotase itu. Beri nama. Amati. Tanyakan apa yang coba mereka lindungi. Dan lalu ingat bahwa kamu bisa memilih cara lain untuk merawat dirimu.
Ketika kamu lebih jelas tentang kebenaranmu, idealismemu mulai beresonansi lebih kuat. Kamu tidak perlu lagi hidup dengan bereaksi terhadap rasa takut. Kamu bisa mulai membangun dari kepercayaan, dari kejujuran, dan dari versi dirimu yang tidak meninggalkan dirinya sendiri justru saat akan bertumbuh. ✨