Wajar jika Anda merasa seperti berlayar di perairan yang asing ketika dunia berubah terlalu cepat.

Berita, masalah pribadi, atau masa penuh ketidakpastian dapat menghadapkan Anda pada masa depan yang sulit dibayangkan. Pada saat-saat seperti itu, muncul kecemasan, kesedihan, frustrasi, dan emosi lain yang tidak selalu Anda tahu bagaimana menatanya.

Ketika realitas Anda berubah, cara Anda mengenali diri sendiri juga bisa berubah untuk sementara waktu.

Mungkin Anda sedang berusaha menyesuaikan diri dengan sebuah “normal baru” yang masih terasa asing. Anda menjalankan tanggung jawab, membalas pesan, dan terus melangkah, tetapi di dalam diri Anda merasa ada sesuatu yang tidak selaras.

Selain itu, media sosial dapat memperbesar ketidaknyamanan tersebut. Anda melihat orang lain belajar, berolahraga, menciptakan proyek, atau menampilkan kehidupan yang tampak sempurna. Namun, gambaran itu tidak menceritakan seluruh kisahnya. Tidak seorang pun perlu menjadi kreatif dan produktif setiap hari untuk membuktikan bahwa mereka menghadapi masa sulit dengan baik.

Anda tidak seharusnya menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu melakukan lebih dari yang saat ini bisa Anda lakukan. Bertahan secara emosional dalam periode yang menuntut juga membutuhkan energi.

Sangat dapat dimengerti jika Anda merasa bukan diri sendiri. Kebiasaan Anda telah berubah, rencana Anda tertunda, atau jarak antara kehidupan yang Anda inginkan dan yang Anda miliki terasa sangat besar. Pada masa isolasi, krisis, atau stres berkepanjangan, banyak orang untuk sementara waktu kehilangan motivasi dan rasa akrab dengan diri mereka sendiri.

Mungkin Anda belum pernah mengalami hal seperti ini dan masih belum tahu bagaimana harus merespons.

Jika Anda merasa bingung arah, saya ingin mengingatkan Anda akan sesuatu yang penting: Anda tidak sendirian. Anda juga tidak perlu menghukum diri sendiri karena cara Anda menjalani masa ini.

Mungkin Anda memutuskan untuk mempelajari sesuatu yang baru. Namun, mungkin juga pada beberapa hari Anda hanya ingin tetap di bawah selimut, beristirahat, dan meredam kebisingan dari luar. Kedua respons tersebut mencerminkan kebutuhan yang berbeda. Yang penting adalah mendengarkan apa yang benar-benar Anda butuhkan, tanpa mengubah istirahat menjadi rasa bersalah atau produktivitas menjadi kewajiban.

Emosi Anda dapat berubah dengan cepat. Mungkin Anda merasa cemas di pagi hari, penuh harapan pada sore hari, dan mudah tersinggung saat hari berakhir. Emosi yang terasa tercerai-berai bukan berarti Anda gagal. Itu berarti pikiran Anda sedang berusaha menyesuaikan diri dengan realitas yang tidak pasti.

Jika kegelisahan mulai terasa melampaui batas, strategi untuk mengelola emosi dan memulihkan keseimbangan ini dapat memberi Anda sumber daya yang praktis.

Mengapa Anda mungkin merasa tidak lagi menjadi diri sendiri



Kita cenderung menganggap identitas sebagai sesuatu yang tetap. Namun, kita juga mengenali diri kita melalui rutinitas, hubungan, tempat-tempat yang biasa kita datangi, dan proyek yang membuat kita bersemangat. Ketika beberapa titik acuan itu hilang atau berubah, wajar jika kita merasa terputus.

Anda mungkin bertanya pada diri sendiri: “Mengapa saya tidak lagi menikmati hal-hal yang dulu saya sukai?”, “mengapa saya sulit berbicara dengan orang lain?” atau “kapan saya akan merasa baik lagi?”. Tidak selalu ada jawaban yang langsung tersedia.

Stres dapat mengurangi kesabaran Anda, mengganggu konsentrasi, dan membuat tugas-tugas sederhana terasa jauh lebih berat. Stres juga dapat membuat Anda mengasingkan diri atau merasa murung. Semua ini layak diperhatikan, tetapi tidak menentukan masa depan Anda maupun mendefinisikan siapa diri Anda.

Jangan berusaha segera kembali menjadi pribadi seperti Anda yang dulu. Anda telah melalui perubahan luar dan dalam. Mungkin beberapa bagian dari kehidupan lama Anda akan kembali, sementara bagian lainnya perlu bertransformasi.

Bersabar terhadap diri sendiri bisa menjadi tindakan yang sangat berani. Jika hari ini Anda merasa terputus dari dunia, cobalah untuk tidak menambahkan satu penilaian lagi pada rasa sakit yang sudah Anda alami.

Cara memperlakukan diri dengan sabar dan welas asih



Menerima keadaan Anda saat ini bukan berarti menyerah. Itu berarti mengakui dari titik mana Anda memulai, tanpa berpura-pura bahwa semuanya berjalan baik atau menuntut pemulihan seketika dari diri sendiri.

Anda dapat memulai dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana:


  • Emosi apa yang paling kuat muncul hari ini?

  • Situasi apa yang sedang menguras energi saya?

  • Apakah saya perlu beristirahat, berbicara, bergerak, atau menetapkan batas?

  • Tindakan kecil apa yang dapat sedikit meringankan hari ini?



Lupakan sejenak gagasan untuk mengikuti rutinitas biasa Anda secara ketat. Mungkin hari ini Anda tidak dapat menyelesaikan latihan, menjaga rumah tetap rapi, atau berkonsentrasi selama berjam-jam. Menyesuaikan harapan bukanlah menyerah. Itu adalah cara merespons sumber daya Anda saat ini dengan bijak.

Pada suatu hari Anda mungkin merapikan satu ruangan, dan pada hari lain Anda hanya mampu membuka jendela, mandi, dan menyiapkan sesuatu yang bergizi. Perhatian kecil kepada diri sendiri juga berarti. Jika Anda membutuhkan gagasan sederhana, Anda dapat melihat kebiasaan perawatan diri untuk meredakan stres sehari-hari ini.

Ingat juga bahwa meminta bantuan adalah hal yang wajar. Berbicara dengan seseorang yang Anda percaya dapat mengurangi rasa terasing. Jika ketidaknyamanan menjadi intens, menetap, atau sangat mengganggu kehidupan sehari-hari, pertimbangkan untuk mencari pendampingan profesional.

Latihan untuk kembali terhubung dengan diri Anda



Sepanjang pekerjaan saya sebagai psikolog, saya telah mendampingi proses transformasi yang sangat manusiawi. Saya teringat pada seorang pasien yang akan saya sebut Carlos demi menjaga identitasnya. Kisahnya menunjukkan bagaimana penerimaan diri dapat dimulai dari gerakan-gerakan yang sangat kecil.

Carlos datang ke sesi konsultasi dengan tatapan bingung. Ketidakpuasan telah menjadi teman tetapnya.

“Saya tidak mengenali diri saya. Saya merasa telah melupakan siapa diri saya sebenarnya,” katanya kepada saya.

Pengalamannya bukanlah sesuatu yang aneh. Banyak orang melewati masa ketika mereka merasa jauh dari jati diri mereka, terutama setelah kehilangan, perubahan drastis, krisis, atau berbulan-bulan menghadapi tuntutan yang menumpuk.

Saya mengusulkan kepadanya sebuah jalan untuk mengenal diri yang didukung oleh tindakan sehari-hari. Setiap hari ia harus menulis tiga hal:


  1. Apa yang sedang ia rasakan, tanpa mengoreksi atau menghakimi diri sendiri.

  2. Apa yang ingin ia rasakan, dengan harapan yang realistis.

  3. Satu tindakan kecil yang dapat membawanya lebih dekat pada keadaan emosional tersebut.



Contohnya, jika ia merasa kesepian dan menginginkan sedikit koneksi, tindakannya dapat berupa mengirim pesan yang jujur kepada seorang teman. Jika ia merasa kewalahan dan membutuhkan ketenangan, ia dapat mematikan ponselnya selama dua puluh menit lalu berjalan-jalan.

Pada awalnya, Carlos ragu. Baginya, hal itu tampak terlalu sederhana. Bagaimana sesuatu yang begitu kecil dapat menghasilkan perbedaan nyata? Namun, seiring berjalannya minggu-minggu, ia mulai mengenali emosi dan kebutuhannya dengan lebih jelas.

Ia memahami bahwa menerima diri bukan berarti selalu menyukai diri sendiri. Hal itu juga berarti merangkul sisi-sisi baiknya, kontradiksi-kontradiksinya, dan bagian-bagian yang masih belum ia pahami.

Jika praktik ini menarik bagi Anda, menulis dapat membantu Anda mendengarkan apa yang selama ini Anda hindari. Artikel tentang bagaimana jurnal pribadi mendorong pertumbuhan batin ini dapat membimbing Anda untuk memulai tanpa tekanan.

Penerimaan diri dibangun melalui tindakan-tindakan kecil



Pada suatu sore, Carlos datang dengan ekspresi yang berbeda. Ada kilau baru di matanya.

“Saya mulai merasa menjadi diri saya lagi,” ujarnya. Lalu ia menambahkan sesuatu yang bahkan lebih penting: “Saya telah belajar untuk bersikap baik kepada diri sendiri.”

Perubahannya tidak ajaib maupun seketika. Perjalanannya pun tidak maju dalam garis lurus. Ada hari-hari yang jernih dan ada hari-hari ketika ia kembali merasa tersesat. Perbedaannya adalah ia tidak lagi menafsirkan setiap kemunduran sebagai kegagalan.

Kemajuannya lahir dari komitmen terhadap prosesnya, keberanian untuk mengamati dunia batinnya, dan banyak keputusan kecil yang diulang dengan sabar.

Pengalaman ini meninggalkan pelajaran berharga: menerima diri saat Anda tidak merasa menjadi diri sendiri adalah perjalanan menuju batin yang membutuhkan waktu, welas asih, dan tindakan sadar. Anda tidak perlu menyelesaikan seluruh hidup Anda hari ini. Anda hanya perlu mengenali langkah berikutnya yang mungkin dilakukan.

Langkah itu dapat berupa beristirahat, kembali melakukan kegiatan yang dulu Anda nikmati, menuliskan apa yang Anda rasakan, menetapkan batas, atau mengakui bahwa Anda membutuhkan dukungan. Untuk mendalaminya, Anda juga dapat terbantu dengan membaca cara mengubah hidup melalui perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari.

Anda bukan hanya versi diri Anda yang paling ceria, mudah bergaul, atau produktif. Anda juga adalah pribadi yang ragu, lelah, membutuhkan perlindungan, dan belajar untuk memulai kembali.

Menerima siapa diri Anda mencakup seluruh versi diri Anda: yang mudah dicintai maupun yang sulit dipahami.

Anda tidak harus merasa sepenuhnya siap. Ambillah satu langkah yang penuh kebaikan hari ini. Besok, Anda dapat kembali mendengarkan apa yang Anda butuhkan dan terus berjalan, dengan ritme Anda sendiri. 🌱