Daftar isi
- Mengapa kamu pantas memaafkan diri sendiri meskipun pernah melakukan kesalahan
- Memaafkan diri sendiri bukan berarti melupakan atau menghindari tanggung jawab
- Cara berhenti menghukum diri sendiri karena masa lalu
- Sebuah kisah tentang rasa bersalah, pembelajaran, dan memaafkan diri sendiri
- Latihan praktis untuk mulai memaafkan diri sendiri
- Kapan perlu mencari bantuan untuk mengatasi rasa bersalah
Ikuti Patricia Alegsa di Pinterest!
Sering kali kita memberikan pengertian kepada orang yang telah menyakiti kita. Kita memahami keadaan mereka, menerima bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna, bahkan menemukan penjelasan atas kesalahan mereka. Namun, ketika tiba waktunya menatap kekeliruan kita sendiri, kemurahan hati itu biasanya menghilang.
Kita menghakimi diri sendiri dengan keras. Kita mengulang-ulang sebuah percakapan. Kita menyalahkan diri atas keputusan lama dan berpikir bahwa seharusnya kita tahu cara bertindak dengan lebih baik. Seolah-olah kita menuntut diri kita di masa lalu memiliki kejelasan yang baru kita peroleh setelah menjalani pengalaman tersebut.
Belas kasih kepada diri sendiri dan memaafkan diri sendiri sangat penting untuk menjaga kesejahteraan emosional, tetapi kita sering kesulitan mempraktikkannya. Memaafkan diri sendiri bukan berarti menyangkal apa yang telah terjadi. Ini juga bukan berarti membenarkan tindakan yang telah menyakiti orang lain. Artinya menerima tanggung jawab tanpa menjadikan kesalahan itu sebagai hukuman seumur hidup.
Jalan pengenalan diri ini dapat membantumu memperlakukan diri sendiri dengan kesabaran dan pengertian yang sama seperti yang kamu berikan kepada orang lain. Terkadang, tindakan baik terhadap diri sendiri itu adalah langkah pertama untuk mendapatkan kembali ketenangan dan membangun hidup yang lebih autentik.
Mengapa kamu pantas memaafkan diri sendiri meskipun pernah melakukan kesalahan
Ingat ini: kamu pantas dimaafkan. Ulangi sebanyak yang kamu perlukan.
Kita biasanya memaafkan orang lain ketika mereka mengecewakan kita, terutama jika kita melihat penyesalan yang tulus. Kita memahami bahwa mereka mungkin bertindak karena rasa takut, ketidakdewasaan, kebingungan, atau luka batin. Namun, jarang sekali kita menerapkan pandangan yang sama pada kisah hidup kita sendiri.
Kita membiarkan kesalahan orang lain menjadi kesempatan untuk bertumbuh, sementara kita menuntut kesempurnaan dari diri sendiri dalam setiap langkah. Padahal, kesempurnaan bukanlah tujuan yang sehat maupun realistis. Bertanggung jawab tidak mengharuskanmu menyiksa diri dari dalam.
Bukan hanya kamu yang mungkin membutuhkan maaf dari orang-orang di sekitarmu. Kamu juga perlu memberi diri sendiri izin untuk berhenti menghukum diri.
Kamu berhak memaafkan diri sendiri atas malam-malam yang dipenuhi pesan yang kini kamu sesali atau atas pertemuan yang lebih ingin kamu lupakan. Atas pertengkaran yang tidak perlu dengan orang-orang penting dalam hidupmu. Atas kata-kata yang diucapkan saat marah dan keheningan yang menciptakan jarak.
Kamu dapat memaafkan diri sendiri atas saat-saat ketika alkohol lebih menjadi musuh daripada teman dan memengaruhi keputusanmu. Jika situasi seperti ini berulang atau sulit kamu kendalikan, selain memaafkan diri sendiri, sebaiknya carilah bantuan profesional. Meminta dukungan juga merupakan cara untuk menjaga dirimu.
Kamu dapat memaafkan diri sendiri atas kesempatan kerja yang tidak kamu manfaatkan, proyek yang kamu tinggalkan, serta keputusan-keputusan yang tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan. Juga karena bertahan terlalu lama dalam hubungan yang melelahkan akibat takut akan kesepian atau perubahan.
Mungkin suatu kali kamu tidak cukup menghargai orang-orang yang ada bersamamu. Mungkin kamu berbohong untuk menghindari konsekuensi, bereaksi secara impulsif, atau memilih jalan yang akhirnya menyakitimu. Semua ini tidak perlu diabaikan, tetapi juga tidak boleh berubah menjadi keseluruhan identitasmu.
Kamu adalah manusia yang bisa berbuat salah. Kamu dapat keliru, belajar, memperbaiki, dan memilih kembali.
Sejak kecil kita mendengar bahwa kesalahan adalah bagian dari pembelajaran. Meski demikian, ketika dewasa kita sering merasa malu karenanya. Kita lupa bahwa banyak keterampilan emosional justru berkembang setelah terjatuh: menetapkan batasan, menyadari kebutuhan, meminta maaf, atau memahami hal-hal yang tidak ingin kita ulangi.
Jika kamu sulit menerima bagian-bagian dari kisah hidupmu, membaca tentang cara belajar mencintai ketidaksempurnaanmu tanpa berhenti bertumbuh juga dapat membantumu.
Memaafkan diri sendiri bukan berarti melupakan atau menghindari tanggung jawab
Ada perbedaan penting antara memaafkan diri sendiri dan meremehkan apa yang telah kamu lakukan. Memaafkan diri sendiri secara sehat mencakup tanggung jawab.
Jika kamu telah menyebabkan luka, hal yang tepat adalah mengakuinya, meminta maaf dengan tulus, dan berusaha memperbaiki apa yang masih bisa kamu perbaiki. Permintaan maaf yang tulus tidak menuntut orang lain untuk menenangkanmu. Permintaan maaf itu juga tidak menekan mereka untuk memberikan respons segera. Ia mengakui apa yang terjadi, mendengarkan dampak dari tindakanmu, dan menunjukkan melalui tindakan apa yang ingin kamu ubah.
Kadang kamu dapat memperbaiki hubungan. Di waktu lain, kamu tidak bisa. Mungkin seseorang tidak ingin memaafkanmu atau membutuhkan jarak. Keputusan itu adalah miliknya dan kamu perlu menghormatinya.
Namun, kamu dapat memutuskan apa yang akan kamu lakukan dengan pembelajaran tersebut. Kamu tidak perlu terjebak dalam rasa bersalah untuk membuktikan bahwa kamu sudah memahami. Bahkan, hukuman yang terus-menerus dapat membuatmu tidak bergerak dan mempersulit perubahan yang sungguh-sungguh.
Rasa bersalah yang bermanfaat mengatakan: “Aku melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilaiku dan aku ingin memperbaikinya.” Sebaliknya, rasa malu yang merusak terus berkata: “Aku orang yang buruk dan aku tidak bisa berubah.” Yang satu menunjukkan suatu perilaku; yang lain menyerang seluruh identitasmu.
Ketika kamu menyadari perbedaan itu, tanyakan pada dirimu:
- Tanggung jawab konkret apa yang dapat kuambil?
- Apakah ada permintaan maaf atau perbaikan yang mungkin dilakukan?
- Apa yang kupelajari tentang batasan, luka, atau doronganku?
- Tindakan berbeda apa yang dapat kupilih lain kali?
Memaafkan diri sendiri tidak menghapus masa lalu; itu mencegah masa lalu terus-menerus menguasai masa kini. Jika hari ini kamu mampu menyadari sesuatu yang dahulu tidak kamu lihat, kamu tidak lagi sepenuhnya sama dengan orang yang melakukan kesalahan itu.
Cara berhenti menghukum diri sendiri karena masa lalu
Penghakiman terhadap diri sendiri sering dipupuk oleh kalimat-kalimat mutlak: “Aku selalu merusak semuanya”, “Aku tidak pernah melakukan apa pun dengan benar”, atau “Aku tidak pantas bahagia”. Gagasan-gagasan ini tidak menggambarkan fakta secara akurat. Itu adalah vonis yang lahir dari rasa sakit.
Cobalah menggantinya dengan kata-kata yang lebih jujur: “Aku membuat keputusan yang buruk”, “Aku menyakiti seseorang dan ingin belajar”, “Saat itu aku belum memiliki bekal yang kumiliki sekarang”, atau “Mulai hari ini, aku bisa bertindak dengan cara lain”.
Ini bukan mencari-cari alasan. Ini berarti melihat keseluruhan situasi. Pemahaman membuka pintu bagi perubahan, sedangkan penghinaan terhadap diri sendiri biasanya membuatnya tetap tertutup.
Kamu juga dapat membayangkan seseorang yang kamu sayangi menceritakan kesalahan yang persis sama kepadamu. Apa yang akan kamu katakan kepadanya? Mungkin kamu tidak akan menyangkal tanggung jawabnya, tetapi kamu juga tidak akan memintanya membenci dirinya selamanya. Kamu akan mengingatkannya bahwa ia bisa memperbaiki, belajar, dan melanjutkan hidup. Cobalah memberikan respons yang sama kepada dirimu sendiri.
Jika pikiranmu terus kembali pada luka yang orang lain timbulkan kepadamu atau luka yang kamu sebabkan, artikel tentang cara melampaui orang-orang yang telah menyakitimu tanpa kehilangan jati dirimu ini dapat membantumu memahami proses melepaskan dengan lebih baik.
Sebuah kisah tentang rasa bersalah, pembelajaran, dan memaafkan diri sendiri
Dalam sebuah sesi motivasi, seorang peserta yang akan kita sebut Carlos untuk menjaga identitasnya, membagikan pergumulannya dengan rasa bersalah. Ia telah melakukan kesalahan pada masa mudanya yang berdampak pada orang-orang terdekatnya. Meskipun telah berusaha memperbaikinya, ia masih mengingatnya setiap hari.
Carlos melihat bahwa orang lain mampu melampaui kesalahan mereka, menerima maaf, dan membangun kembali hidup mereka. Namun, ia merasa bahwa melangkah maju merupakan bentuk tidak menghormati orang-orang yang telah ia sakiti. Ia mengacaukan penyesalan dengan kewajiban untuk menderita selamanya.
Saat menelusuri kisah hidupnya, tampaklah bertahun-tahun penghakiman terhadap diri sendiri dan rasa malu. Lalu muncul pertanyaan sederhana: apakah ia pernah memaafkan orang lain? Carlos mengingat beberapa kesempatan. Ia telah memahami kesalahan orang lain tanpa menyetujuinya dan telah melepaskan dendam karena tidak ingin terus hidup terikat olehnya.
Kisah Carlos menunjukkan bahwa kita dapat memberikan kepada orang lain belas kasih yang kita tolak untuk berikan kepada diri sendiri.
Perubahannya dimulai ketika ia belajar memandang kekeliruannya dengan cara berbeda. Ia tidak berhenti mengakui luka yang telah ditimbulkan atau menanggung konsekuensinya. Yang berubah adalah keyakinan bahwa ia harus menghukum diri selamanya untuk membuktikan penyesalannya.
“Memaafkan diri sendiri bukan berarti melupakan apa yang terjadi atau meremehkannya. Artinya membebaskan diri dari hukuman yang tidak perlu agar dapat bertindak lebih baik.”
Sebagai latihan, Carlos menulis surat untuk dirinya sendiri. Mula-mula ia menceritakan apa yang terjadi tanpa melebih-lebihkan atau menghina dirinya. Lalu ia mengakui orang-orang yang terdampak dan mengungkapkan apa yang ingin ia lakukan secara berbeda. Terakhir, ia menulis hal-hal yang telah dipelajarinya dan komitmen konkret yang ingin ia pegang.
Pada awalnya ia merasa tidak nyaman. Baginya terasa aneh berbicara kepada diri sendiri dengan baik. Seiring waktu, ia memahami bahwa belas kasih tidak menghapus tanggung jawabnya: belas kasih memberinya kekuatan yang diperlukan untuk hidup selaras dengan nilai-nilai yang diyakininya saat ini.
Perubahan itu memperbaiki hubungannya dengan diri sendiri dan juga relasinya dengan orang lain. Ketika berhenti membela diri dari rasa bersalahnya sendiri, ia mampu mendengarkan dengan lebih baik, meminta maaf dengan lebih tulus, dan berhubungan dari tempat yang tidak terlalu dipenuhi ketakutan.
Latihan praktis untuk mulai memaafkan diri sendiri
Kamu dapat mencoba latihan menulis surat saat memiliki waktu yang tenang. Kamu tidak perlu menulis sesuatu yang sempurna. Kamu hanya perlu jujur.
Mulailah dengan kalimat-kalimat ini:
- “Aku sulit memaafkan diriku karena…”
- “Aku mengakui bahwa tindakanku menyebabkan…”
- “Pada saat itu, aku sedang merasakan atau mengalami…”
- “Ini tidak membenarkan apa yang terjadi, tetapi membantuku memahaminya…”
- “Hari ini aku dapat memperbaiki atau berubah melalui…”
- “Aku memberi diriku izin untuk belajar dan melanjutkan hidup karena…”
Setelah itu, bacalah surat tersebut seolah-olah ditulis oleh seseorang yang kamu cintai. Perhatikan apakah ada hinaan, tuntutan yang mustahil, atau generalisasi. Jika ada, tulislah kembali bagian-bagian itu dengan ketegasan dan rasa hormat.
Praktik berguna lainnya adalah membuat jurnal. Menulis memungkinkanmu menata emosi yang di dalam pikiran terasa seperti simpul mustahil untuk diurai. Untuk mendalaminya, kamu dapat mengetahui mengapa menulis jurnal pribadi membantu pertumbuhan pribadi.
Kapan perlu mencari bantuan untuk mengatasi rasa bersalah
Ada rasa bersalah yang dapat diproses melalui waktu, refleksi, dan percakapan yang tulus. Ada pula yang berkaitan dengan pengalaman traumatis, kehilangan, kekerasan, penggunaan zat yang bermasalah, atau pikiran berulang yang mengganggu kehidupan sehari-hari.
Jika rasa bersalah menghalangimu untuk tidur, menikmati hidup, berhubungan dengan orang lain, atau melakukan kegiatan sehari-hari, pertimbangkan untuk berbicara dengan tenaga profesional kesehatan mental. Bukan karena kamu gagal, melainkan karena kamu tidak harus melewati semuanya sendirian.
Memaafkan diri sendiri berarti memberi diri sendiri izin untuk tidak sempurna dan terus bertumbuh. Ini berarti mengakui bahwa kamu tidak dapat mengubah masa lalu, tetapi kamu dapat memutuskan bagaimana akan merespons hari ini.
Kamu bukan hanya keputusan-keputusan terburukmu. Kamu juga adalah kesadaran yang telah kamu kembangkan, permintaan maaf yang telah kamu sampaikan, luka yang telah kamu usahakan untuk perbaiki, dan pilihan-pilihan yang lebih sehat yang kamu buat sekarang.
Pandanglah dirimu dengan jujur, tetapi juga dengan kemanusiaan. Bertanggung jawablah tanpa meninggalkan dirimu sendiri. Dan ketika rasa bersalah lama kembali mengetuk pintumu, ingatkan ia bahwa kamu sudah mempelajari pelajarannya dan kini tugasmu adalah menjalaninya.